Bendahara Pemerintah Daerah memiliki peran penting dalam siklus Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (PBJ), khususnya pada tahap pembayaran dan pertanggungjawaban keuangan. Meskipun bendahara tidak terlibat langsung dalam proses pemilihan penyedia, namun dalam praktik pemeriksaan, bendahara sering menjadi pihak yang ikut dimintai pertanggungjawaban atas permasalahan PBJ.
Memasuki Tahun Anggaran 2026, pengawasan terhadap PBJ semakin diperketat melalui pemeriksaan BPK dan pengawasan APIP yang fokus pada kesesuaian pembayaran, kelengkapan dokumen, serta kepatuhan terhadap ketentuan kontrak dan perpajakan. Kondisi ini menuntut bendahara untuk memiliki pemahaman yang utuh mengenai batas kewenangan, tanggung jawab, dan risiko jabatan dalam PBJ.
Dalam banyak kasus, keterlibatan bendahara dalam temuan PBJ bukan disebabkan unsur kesengajaan, melainkan akibat lemahnya verifikasi dokumen, kesalahan perlakuan pajak, serta ketidaktepatan prosedur pembayaran. Oleh karena itu, bendahara perlu dibekali pemahaman dan strategi yang tepat agar dapat menjalankan perannya secara aman, profesional, dan patuh regulasi.
Tantangan Bendahara dalam Pengadaan Barang/Jasa Tahun 2026
Beberapa tantangan utama yang dihadapi bendahara pemerintah daerah dalam PBJ tahun 2026 antara lain:
Ketidakjelasan batas kewenangan bendahara dalam proses PBJ
Risiko pembayaran yang tidak sesuai kontrak atau progres pekerjaan
Kesalahan verifikasi dokumen pengadaan sebelum pembayaran
Risiko perpajakan pengadaan yang melekat pada bendahara
Tekanan percepatan pembayaran tanpa kelengkapan administrasi
Keterlibatan bendahara dalam temuan PBJ meskipun tidak terlibat proses pengadaan
Ketidaksiapan menghadapi pemeriksaan PBJ oleh BPK dan APIP
Tanpa pemahaman dan strategi yang tepat, bendahara berpotensi menjadi pihak yang paling terdampak apabila terjadi temuan pemeriksaan PBJ.
Strategi Aman Bendahara dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Strategi aman bendahara dalam PBJ tidak hanya berfokus pada kelengkapan administrasi, tetapi juga mencakup:
Pemahaman posisi dan batas tanggung jawab bendahara dalam PBJ
Ketelitian dalam verifikasi dokumen pengadaan sebelum pembayaran
Kepatuhan terhadap ketentuan kontrak dan progres pekerjaan
Penguasaan kewajiban perpajakan dalam transaksi PBJ
Koordinasi yang jelas antara bendahara, PPK, dan PPTK
Kesiapan menghadapi pemeriksaan dan klarifikasi PBJ
Strategi tersebut perlu dipahami dan dilatih secara sistematis melalui bimbingan teknis yang aplikatif dan berbasis praktik pemeriksaan.
Penawaran Bimbingan Teknis Nasional
Judul Kegiatan
Bimbingan Teknis Nasional
“Peran Bendahara dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Tahun 2026”
Tujuan Kegiatan
Bimbingan Teknis ini bertujuan untuk:
Meningkatkan pemahaman bendahara terhadap peran dan risiko dalam PBJ
Membekali bendahara dengan strategi aman dalam proses pembayaran pengadaan
Meminimalkan kesalahan bendahara yang berpotensi menjadi temuan PBJ
Meningkatkan kesiapan bendahara menghadapi pemeriksaan BPK dan APIP
Materi Bimbingan Teknis
Kedudukan dan Peran Bendahara dalam Siklus PBJ
Batas Kewenangan dan Tanggung Jawab Bendahara dalam Pengadaan
Verifikasi Dokumen Pengadaan Sebelum Pembayaran
Kesalahan Bendahara dalam PBJ yang Sering Menjadi Temuan
Perlakuan Pajak Pengadaan dan Risiko bagi Bendahara
Hubungan Kerja Bendahara dengan PPK dan PPTK dalam PBJ
Strategi Aman Bendahara Menghadapi Pemeriksaan PBJ
Studi Kasus Temuan PBJ dan Langkah Pencegahannya
Etika dan Integritas Bendahara dalam Pengelolaan PBJ
Sasaran Peserta
Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan
Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK)
PPTK dan staf pengelola keuangan OPD
Pejabat/staf yang terlibat dalam pembayaran PBJ
Metode Pelaksanaan
Pemaparan materi regulatif dan praktik terbaik
Studi kasus nyata temuan PBJ
Diskusi interaktif dan tanya jawab
Simulasi verifikasi dan pembayaran PBJ
JADWAL PELAKSANAAN
Periode: Januari – Desember 2026
Durasi: 2 hari per sesi
Format: Tatap muka & Online (Zoom)
📍 Lokasi:
Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makassar, Lombok
Pilihan Paket & Kontribusi Peserta
|
Paket |
Keterangan |
Biaya |
|---|---|---|
|
Paket A |
Penginapan Single |
Rp 5.500.000 |
|
Paket B |
Penginapan Twin Share |
Rp 5.000.000 |
|
Paket C |
Non Akomodasi |
Rp 4.000.000 |
|
Paket D |
Online via Zoom |
Rp 3.000.000 |
PEMBAYARAN
Pembayaran dapat dilakukan:
On the spot saat registrasi
Atau transfer ke:
Bank BRI
No. Rekening: 0424-01-000925-30-7
A.n.: LINKPEMDA
FASILITAS PESERTA
✔ Akomodasi (Paket A & B)
✔ Sertifikat Bimbingan Teknis
✔ Modul & Makalah
✔ Seminar Kit
✔ Konsumsi & Coffee Break
✔ Rekaman & E-Modul (Peserta Online)
KONTAK RESMI
📱 WhatsApp: +62 813-8766-6605
🌐 Website: www.linkpemda.com
📧 Email: info@linkpemda.com
Implementasi PP TUNAS di Pemerintah Daerah
Latar Belakang
Perkembangan teknologi digital yang semakin masif telah mendorong pemerintah daerah untuk memperluas layanan publik berbasis sistem elektronik. Di sisi lain, peningkatan akses digital juga membawa risiko baru, khususnya terhadap perlindungan anak di ruang digital.
Sebagai respons atas kondisi tersebut, pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggara Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS) yang mulai diimplementasikan secara efektif pada tahun 2026. Regulasi ini mengatur kewajiban perlindungan anak dalam penyelenggaraan sistem elektronik serta peran pemerintah, termasuk pemerintah daerah.
Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab strategis dalam memastikan layanan digital yang diselenggarakan aman, ramah anak, serta sejalan dengan kebijakan nasional perlindungan anak.
Ruang Lingkup Kebijakan PP TUNAS
PP TUNAS mengatur antara lain:
Perlindungan anak dalam penggunaan sistem elektronik
Kewajiban penyelenggara sistem elektronik
Pengendalian konten dan akses digital ramah anak
Peran pemerintah daerah dalam edukasi, pengawasan, dan kebijakan pendukung
Implementasi kebijakan ini membutuhkan kesiapan aparatur pemerintah daerah, baik dari sisi pemahaman regulasi maupun tata kelola teknis.
Tantangan Pemerintah Daerah Tahun 2026
Beberapa tantangan yang dihadapi pemerintah daerah antara lain:
Penyesuaian layanan publik digital agar ramah anak
Penguatan koordinasi lintas OPD
Integrasi kebijakan perlindungan anak dengan sistem pemerintahan berbasis elektronik
Peningkatan literasi digital masyarakat
Implementasi PP TUNAS Tahun 2026 menuntut peran aktif pemerintah daerah dalam menciptakan ekosistem digital yang aman dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas aparatur menjadi langkah penting untuk mendukung kebijakan perlindungan anak di ruang digital.
PENAWARAN BIMTEK
Bimbingan Teknis Perlindungan Anak & Tata Kelola Digital Tahun 2026
(Implementasi PP TUNAS di Pemerintah Daerah)
Dalam rangka mendukung kesiapan pemerintah daerah dalam mengimplementasikan PP TUNAS sebagai kebijakan perlindungan anak di ruang digital tahun 2026, bersama ini LINKPEMDA menawarkan pelaksanaan:
Bimbingan Teknis Perlindungan Anak & Tata Kelola Digital Tahun 2026
(Implementasi PP TUNAS di Pemerintah Daerah)
Tujuan Kegiatan
Kegiatan bimtek ini bertujuan untuk:
Meningkatkan pemahaman ASN terhadap substansi PP TUNAS
Memberikan pemahaman teknis terkait peran dan kewenangan pemerintah daerah
Mendukung penyelenggaraan layanan publik digital yang aman dan ramah anak
Memperkuat tata kelola sistem elektronik di lingkungan pemerintah daerah
Materi Bimtek
Materi yang disampaikan meliputi:
Kebijakan nasional perlindungan anak di ruang digital
Substansi dan implementasi PP TUNAS
Peran pemerintah daerah dalam pengawasan dan edukasi digital
Tata kelola layanan publik berbasis sistem elektronik
Sinkronisasi kebijakan perlindungan anak dengan regulasi terkait
Sasaran Peserta
ASN Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota
OPD terkait perlindungan anak dan layanan digital
Dinas Kominfo, Dinas Pendidikan, dan OPD teknis lainnya
Pengelola sistem informasi pemerintah daerah
JADWAL PELAKSANAAN
Periode: Januari – Desember 2026
Durasi: 2 hari per sesi
Format: Tatap muka & Online (Zoom)
📍 Lokasi:
Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makassar, Lombok
Pilihan Paket & Kontribusi Peserta
|
Paket |
Keterangan |
Biaya |
|---|---|---|
|
Paket A |
Penginapan Single |
Rp 5.500.000 |
|
Paket B |
Penginapan Twin Share |
Rp 5.000.000 |
|
Paket C |
Non Akomodasi |
Rp 4.000.000 |
|
Paket D |
Online via Zoom |
Rp 3.000.000 |
PEMBAYARAN
Pembayaran dapat dilakukan:
On the spot saat registrasi
Atau transfer ke:
Bank BRI
No. Rekening: 0424-01-000925-30-7
A.n.: LINKPEMDA
FASILITAS PESERTA
✔ Akomodasi (Paket A & B)
✔ Sertifikat Bimbingan Teknis
✔ Modul & Makalah
✔ Seminar Kit
✔ Konsumsi & Coffee Break
✔ Rekaman & E-Modul (Peserta Online)
KONTAK RESMI
📱 WhatsApp: +62 813-8766-6605
🌐 Website: www.linkpemda.com
📧 Email: info@linkpemda.com
Tahun 2026 merupakan fase krusial dalam transformasi pengadaan barang/jasa pemerintah daerah. Penerapan e-Katalog versi 6 (V6) yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) dan Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI) telah menjadi kebutuhan wajib bagi seluruh aparatur pemerintah daerah yang terlibat dalam perencanaan, penganggaran, pengadaan, dan pelaporan keuangan.
Integrasi sistem ini tidak hanya bertujuan mempercepat proses pengadaan, tetapi juga memastikan kesesuaian antara perencanaan, anggaran, kontrak, pembayaran, dan pelaporan, sekaligus meminimalkan risiko kesalahan administrasi serta temuan pemeriksaan.
Sejalan dengan kebijakan nasional penguatan tata kelola dan digitalisasi pemerintahan, LINKPEMDA menyelenggarakan Bimbingan Teknis Nasional (BIMTEK WAJIB ASN 2026) sebagai upaya peningkatan kapasitas aparatur pemerintah daerah agar mampu mengimplementasikan integrasi e-Katalog, SIPD, dan SAKTI secara tepat, patuh regulasi, dan aplikatif.
Tujuan Kegiatan
Bimbingan teknis ini bertujuan untuk:
Meningkatkan pemahaman ASN terhadap integrasi e-Katalog V6 dengan SIPD dan SAKTI
Memperkuat kompetensi teknis pelaksanaan e-Purchasing yang selaras dengan penganggaran daerah
Mencegah kesalahan administrasi dan potensi temuan audit pengadaan
Mendorong pengadaan barang/jasa yang transparan, efisien, dan akuntabel
Mendukung terwujudnya tata kelola pemerintahan daerah berbasis sistem terintegrasi
Materi Bimbingan Teknis
Materi disusun berbasis regulasi terbaru dan praktik lapangan, meliputi:
Kebijakan Nasional Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Tahun 2026
Penerapan e-Katalog Versi 6 (V6) dalam e-Purchasing Pemerintah
Integrasi e-Katalog dengan SIPD Perencanaan dan Penganggaran
Integrasi e-Katalog dengan Sistem Keuangan (SAKTI)
Alur Transaksi Pengadaan dari Perencanaan hingga Pembayaran
Penatausahaan dan Pelaporan Pengadaan Terintegrasi
Pengendalian, Monitoring, dan Audit Pengadaan Pemerintah
Studi Kasus & Best Practice Implementasi di Pemerintah Daerah
Diskusi Teknis dan Solusi Permasalahan Lapangan
Sasaran Peserta
Bimtek ini wajib dan sangat direkomendasikan bagi:
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)
Pejabat Pengadaan dan Pokja Pemilihan
Pengelola UKPBJ / ULP
Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK-SKPD)
Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Pembantu
Perencana OPD dan Pengelola SIPD
Auditor/APIP dan Pengawas Internal
ASN yang terlibat dalam pengadaan dan keuangan daerah
(Sasaran peserta bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan kebutuhan instansi.)
Dasar Hukum
Pelaksanaan kegiatan ini berpedoman pada:
UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
Perpres Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Perpres Nomor 46 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Perpres PBJ
Peraturan LKPP tentang Katalog Elektronik dan e-Purchasing
Permendagri Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
Kebijakan nasional integrasi SIPD dan sistem keuangan pemerintah
Susunan Acara (2 Hari / 16 JP)
Hari Pertama
08.00 – 09.00 Registrasi & Pembukaan
09.00 – 10.30 Kebijakan PBJ & Transformasi Digital Pengadaan
10.30 – 11.00 Coffee Break
11.00 – 12.30 e-Katalog V6 & Mekanisme e-Purchasing
12.30 – 13.30 ISHOMA
13.30 – 15.00 Integrasi e-Katalog dengan SIPD & SAKTI
15.00 – 15.30 Coffee Break
15.30 – 17.00 Studi Kasus & Diskusi Teknis
Hari Kedua
08.30 – 09.00 Review Materi
09.00 – 10.30 Sinkronisasi Anggaran, Kontrak, dan Pembayaran
10.30 – 11.00 Coffee Break
11.00 – 12.30 Penatausahaan & Pelaporan Pengadaan Terintegrasi
12.30 – 13.30 ISHOMA
13.30 – 15.00 Best Practice & Pencegahan Temuan Audit
15.00 – 15.30 Coffee Break
15.30 – 16.30 Konsultasi Teknis & Penutup
16.30 Penyerahan Sertifikat
JADWAL PELAKSANAAN
Periode: Januari – Desember 2026
Durasi: 2 hari per sesi
Format: Tatap muka & Online (Zoom)
📍 Lokasi:
Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makassar, Lombok
Pilihan Paket & Kontribusi Peserta
|
Paket |
Keterangan |
Biaya |
|---|---|---|
|
Paket A |
Penginapan Single |
Rp 5.500.000 |
|
Paket B |
Penginapan Twin Share |
Rp 5.000.000 |
|
Paket C |
Non Akomodasi |
Rp 4.000.000 |
|
Paket D |
Online via Zoom |
Rp 3.000.000 |
PEMBAYARAN
Pembayaran dapat dilakukan:
On the spot saat registrasi
Atau transfer ke:
Bank BRI
No. Rekening: 0424-01-000925-30-7
A.n.: LINKPEMDA
FASILITAS PESERTA
✔ Akomodasi (Paket A & B)
✔ Sertifikat Bimbingan Teknis
✔ Modul & Makalah
✔ Seminar Kit
✔ Konsumsi & Coffee Break
✔ Rekaman & E-Modul (Peserta Online)
KONTAK RESMI
📱 WhatsApp: +62 813-8766-6605
🌐 Website: www.linkpemda.com
📧 Email: info@linkpemda.com
Manajemen Risiko sebagai Kebutuhan Wajib Pemerintah Daerah Tahun 2026
Memasuki tahun 2026, pemerintah daerah di Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Risiko tidak lagi bersifat sektoral, tetapi multidimensi—mulai dari risiko kebijakan, keuangan, layanan publik, teknologi informasi, bencana alam, hingga krisis sosial. Kondisi ini menuntut setiap organisasi perangkat daerah (OPD) memiliki ketahanan organisasi yang kuat serta kemampuan menjaga keberlangsungan layanan publik dalam kondisi apa pun.
Manajemen risiko bukan lagi sekadar kewajiban administratif, melainkan menjadi instrumen strategis dalam menjaga stabilitas pemerintahan, akuntabilitas kinerja, dan kepercayaan publik. Oleh karena itu, penguatan kapasitas aparatur dalam manajemen risiko dan keberlangsungan layanan publik menjadi kebutuhan yang sangat penting dan semakin diwajibkan pada tahun 2026.
Pentingnya Ketahanan Organisasi Pemerintah Daerah
Ketahanan organisasi pemerintah daerah mencerminkan kemampuan OPD dalam:
Mengantisipasi risiko sejak tahap perencanaan
Merespons gangguan dan krisis secara cepat dan terukur
Menjaga pelayanan publik tetap berjalan
Memulihkan kinerja organisasi pasca krisis
Tanpa sistem manajemen risiko yang baik, gangguan kecil dapat berkembang menjadi krisis besar yang berdampak langsung pada pelayanan masyarakat dan capaian pembangunan daerah.
Melalui penerapan manajemen risiko yang terstruktur dan terintegrasi dengan SPIP, reformasi birokrasi, dan perencanaan pembangunan daerah, pemerintah daerah dapat memastikan bahwa setiap program dan layanan memiliki mekanisme perlindungan dan keberlanjutan yang jelas.
Manajemen Risiko dan Keberlangsungan Layanan Publik (Service Continuity)
Keberlangsungan layanan publik (service continuity) adalah kemampuan OPD untuk memastikan bahwa layanan dasar kepada masyarakat tetap tersedia meskipun terjadi gangguan, seperti:
Bencana alam
Gangguan sistem teknologi informasi
Krisis kesehatan
Perubahan kebijakan nasional
Kondisi darurat lainnya
Dalam konteks pemerintahan modern, keberlangsungan layanan publik tidak dapat dipisahkan dari manajemen risiko. Setiap risiko yang tidak dikelola berpotensi menghentikan layanan publik dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah.
Oleh sebab itu, penyusunan rencana keberlangsungan layanan (continuity plan) menjadi bagian penting dari tata kelola pemerintahan yang profesional dan berorientasi hasil.
Integrasi Manajemen Risiko dengan SPIP dan Reformasi Birokrasi
Manajemen risiko merupakan salah satu pilar utama dalam Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). Pemerintah daerah diwajibkan untuk:
Mengidentifikasi risiko strategis dan operasional
Menyusun peta risiko OPD
Menetapkan strategi pengendalian dan mitigasi risiko
Melakukan monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan
Selain itu, penerapan manajemen risiko yang efektif berkontribusi langsung terhadap:
Peningkatan nilai Reformasi Birokrasi
Penguatan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah
Efektivitas perencanaan dan penganggaran berbasis risiko
Keberlanjutan pelayanan publik
Pelatihan ini dirancang untuk membantu OPD memahami keterkaitan tersebut secara praktis dan aplikatif.
Bimbingan Teknis LINKPEMDA: Solusi Strategis Penguatan Ketahanan OPD
Sebagai lembaga pengembangan kapasitas aparatur pemerintah daerah, LINKPEMDA menyelenggarakan Bimbingan Teknis Penguatan Ketahanan Organisasi Pemerintah Daerah melalui Manajemen Risiko dan Keberlangsungan Layanan Publik.
Bimtek ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan pemahaman regulatif, tetapi juga membekali peserta dengan kemampuan teknis yang dapat langsung diterapkan di unit kerja masing-masing.
Tujuan Bimbingan Teknis
Meningkatkan pemahaman aparatur terhadap manajemen risiko sektor publik
Memperkuat ketahanan organisasi OPD dalam menghadapi krisis
Mendorong keberlangsungan layanan publik yang efektif dan berkelanjutan
Mendukung implementasi SPIP dan reformasi birokrasi
Meningkatkan kesiapsiagaan aparatur dalam menjaga stabilitas pelayanan publik
Materi Bimbingan Teknis
Kebijakan Nasional Ketahanan Organisasi Pemerintah Daerah
Kerangka dan Prinsip Manajemen Risiko Sektor Publik
Identifikasi dan Analisis Risiko Strategis dan Operasional OPD
Penyusunan dan Pemetaan Risiko (Risk Mapping)
Strategi Pengendalian dan Mitigasi Risiko
Keberlangsungan Layanan Publik dalam Kondisi Krisis
Penyusunan Rencana Keberlangsungan Layanan Publik
Integrasi Manajemen Risiko dengan SPIP dan Reformasi Birokrasi
Monitoring, Evaluasi, dan Peningkatan Ketahanan Organisasi
Studi Kasus dan Praktik Baik Pemerintah Daerah
Sasaran Peserta
Kepala Perangkat Daerah
Pejabat Administrator dan Pengawas
Aparatur Perencana dan Keuangan
Tim SPIP dan Manajemen Risiko
Pengelola Layanan Publik
Unit SPBE dan Teknologi Informasi Pemerintah Daerah
Dasar Hukum Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)
Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2023 tentang Manajemen Risiko Pembangunan Nasional
Permendagri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Perencanaan Pembangunan Daerah
Kebijakan Reformasi Birokrasi dan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
Mengapa Materi Ini Sangat Dibutuhkan Tahun 2026?
✔ Risiko pemerintahan semakin kompleks
✔ Manajemen risiko menjadi indikator penting SPIP dan RB
✔ Layanan publik dituntut tetap berjalan dalam kondisi krisis
✔ OPD membutuhkan panduan teknis yang aplikatif
✔ Menjadi materi prioritas dan strategis bagi seluruh pemerintah daerah
Penutup
Penguatan ketahanan organisasi melalui manajemen risiko dan keberlangsungan layanan publik merupakan langkah strategis untuk memastikan pemerintah daerah mampu menjalankan fungsi pelayanan secara optimal, akuntabel, dan berkelanjutan. Melalui Bimbingan Teknis ini, LINKPEMDA berkomitmen mendukung pemerintah daerah dalam membangun tata kelola pemerintahan yang tangguh dan adaptif menghadapi tantangan masa depan.
Keterbatasan fiskal daerah dan meningkatnya kebutuhan layanan publik mendorong pemerintah daerah untuk mencari skema pembiayaan dan pengelolaan pembangunan yang inovatif. Salah satu pendekatan yang semakin relevan adalah kolaborasi lintas sektor dan Public-Private Partnership (PPP), yaitu kerja sama strategis antara pemerintah daerah dengan sektor swasta, BUMD, akademisi, serta masyarakat dalam penyediaan infrastruktur dan layanan publik.
Melalui skema PPP, pemerintah daerah tidak hanya memperoleh dukungan pendanaan, tetapi juga transfer pengetahuan, teknologi, dan manajemen risiko yang lebih efektif sehingga pembangunan dapat berjalan lebih cepat, efisien, dan berkelanjutan.
Mengapa Kolaborasi Lintas Sektor & PPP Penting bagi Pemerintah Daerah?
Kolaborasi lintas sektor memungkinkan pemerintah daerah:
Mengatasi keterbatasan APBD dalam pembiayaan pembangunan
Meningkatkan kualitas dan efisiensi layanan publik
Mempercepat realisasi proyek strategis daerah
Memperkuat akuntabilitas dan transparansi pengelolaan proyek
Mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan
Namun, keberhasilan PPP sangat bergantung pada pemahaman regulasi, perencanaan yang matang, serta kemampuan teknis aparatur dalam mengelola kerja sama tersebut.
Penawaran Bimbingan Teknis (Bimtek)
**Kolaborasi Lintas Sektor & Public-Private Partnership (PPP)
dalam Pembangunan Daerah**
LINKPEMDA menawarkan Bimbingan Teknis yang dirancang khusus untuk meningkatkan kapasitas aparatur pemerintah daerah dalam merancang, melaksanakan, dan mengawasi kerja sama lintas sektor dan PPP secara profesional dan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Tujuan Bimtek
Meningkatkan pemahaman dan kemampuan aparatur pemerintah daerah dalam menerapkan kolaborasi lintas sektor dan skema PPP sesuai regulasi, guna mengoptimalkan pembiayaan pembangunan daerah yang akuntabel, berkelanjutan, dan berorientasi hasil.
Materi Bimtek
Konsep dan prinsip kolaborasi lintas sektor
Kebijakan dan regulasi nasional terkait PPP
Perencanaan dan identifikasi proyek kerja sama daerah
Skema pembiayaan dan manajemen risiko PPP
Penyusunan dokumen kerja sama dan kontrak PPP
Pengawasan, evaluasi, dan akuntabilitas pelaksanaan kerja sama
Studi kasus praktik baik PPP di pemerintah daerah
Sasaran Peserta
Kepala OPD dan pejabat struktural
Pejabat perencana dan pengelola keuangan daerah
Pejabat pengadaan barang/jasa
Unit kerja pengelola kerja sama daerah dan BUMD
Metode dan Pelaksanaan
Metode: Paparan materi, diskusi interaktif, dan studi kasus
Durasi: 2 (dua) hari / menyesuaikan kebutuhan
Pelaksanaan: Tatap muka, daring, atau hybrid
Dasar Hukum
UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2015 tentang Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha
Peraturan perundang-undangan lain yang terkait
Manfaat Mengikuti Bimtek Ini
Memahami skema PPP secara komprehensif
Meningkatkan kesiapan daerah dalam proyek kerja sama strategis
Mengurangi risiko hukum dan administrasi kerja sama
Mendukung percepatan pembangunan daerah yang berkelanjutan
Informasi & Pendaftaran
LINKPEMDA – Lembaga Informasi Keuangan dan Pembangunan Daerah
🌐 www.linkpemda.com
📧 info@linkpemda.com
📱 WhatsApp: +62 813-8766-6605