Strategi Wajib Kepatuhan Pajak Digital Instansi Pemerintah
Transformasi digital di bidang perpajakan nasional memasuki fase krusial dengan diterapkannya Coretax System sebagai sistem administrasi perpajakan terintegrasi. Pada tahun 2026, seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dituntut untuk menyesuaikan proses administrasi pajak agar lebih akurat, transparan, dan patuh terhadap ketentuan perpajakan yang berlaku.
Namun dalam praktiknya, masih banyak SKPD yang menghadapi kendala serius, mulai dari keterbatasan pemahaman teknis Coretax, risiko kesalahan pelaporan pajak, hingga belum optimalnya integrasi antara Coretax dengan sistem keuangan instansi. Kondisi ini berpotensi menimbulkan ketidaksesuaian data pajak, koreksi pemeriksaan, hingga risiko sanksi perpajakan bagi instansi pemerintah.
Oleh karena itu, dibutuhkan penguatan kapasitas aparatur SKPD melalui bimbingan teknis yang fokus, aplikatif, dan berbasis praktik nyata, agar implementasi Coretax tidak hanya bersifat administratif, tetapi benar-benar mendukung kepatuhan dan tata kelola keuangan yang akuntabel.
Peran Strategis Coretax bagi Administrasi Pajak SKPD
Implementasi Coretax System yang tepat berfungsi sebagai:
Sistem terintegrasi administrasi pajak instansi pemerintah
Instrumen pengendalian kepatuhan pajak SKPD
Media sinkronisasi data pajak dan keuangan instansi
Upaya pencegahan kesalahan pelaporan dan sanksi pajak
Pendukung transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah
Coretax bukan sekadar sistem baru, tetapi perubahan mendasar dalam tata kelola pajak instansi pemerintah.
Permasalahan Umum Implementasi Coretax di SKPD
Beberapa permasalahan yang sering terjadi di lingkungan SKPD antara lain:
Pemahaman teknis Coretax belum merata
Kesalahan input dan pelaporan pajak digital
Data pajak tidak sinkron dengan sistem keuangan
Ketidaksiapan bendahara dan pengelola pajak
Risiko koreksi dan sanksi saat pemeriksaan pajak
Jika tidak segera diantisipasi, permasalahan tersebut dapat berdampak langsung pada kinerja keuangan dan kredibilitas instansi.
Dampak terhadap Tata Kelola Keuangan Daerah
Implementasi Coretax yang tidak optimal berpotensi menyebabkan:
Ketidaktertiban administrasi pajak SKPD
Meningkatnya temuan pemeriksaan
Risiko sanksi dan denda pajak
Menurunnya akuntabilitas keuangan daerah
Beban koreksi administratif yang berulang
Oleh karena itu, penguatan kompetensi aparatur SKPD menjadi kebutuhan wajib tahun 2026.
Solusi Strategis: Bimtek Coretax SKPD oleh LINKPEMDA
Sebagai bentuk dukungan terhadap transformasi digital perpajakan instansi pemerintah, LINKPEMDA menyelenggarakan:
📘 BIMBINGAN TEKNIS NASIONAL
IMPLEMENTASI CORETAX SYSTEM DALAM ADMINISTRASI PAJAK SKPD TAHUN 2026
Penguatan Kepatuhan Pajak Digital dan Mitigasi Risiko Perpajakan Instansi Pemerintah
Tujuan Kegiatan
Bimbingan teknis ini bertujuan untuk:
Meningkatkan pemahaman transformasi digital perpajakan
Membekali keterampilan teknis penggunaan Coretax
Meningkatkan kepatuhan administrasi pajak SKPD
Meminimalkan kesalahan pelaporan dan risiko sanksi
Mendukung transparansi dan akuntabilitas pengelolaan pajak
Materi Bimtek
Kebijakan Nasional Transformasi Digital Perpajakan
Konsep Dasar dan Arsitektur Coretax System
Pendaftaran, Validasi, dan Pemutakhiran Data Wajib Pajak
Pelaporan Pajak Digital melalui Coretax
Integrasi Coretax dengan Sistem Keuangan Instansi
Pengendalian Risiko dan Kesalahan Umum Coretax
Studi Kasus dan Simulasi Implementasi Coretax
Strategi Kepatuhan Pajak SKPD Tahun 2026
Sasaran Peserta
Bendahara Pengeluaran dan Penerimaan
Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD)
Pengelola Pajak SKPD
Staf Keuangan OPD dan BLUD
Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP)
Narasumber
Praktisi dan konsultan perpajakan, akademisi, serta narasumber berpengalaman dalam implementasi Coretax dan administrasi pajak instansi pemerintah.
JADWAL PELAKSANAAN
Periode: Januari – Desember 2026
Durasi: 2 hari per sesi
Format: Tatap muka & Online (Zoom)
📍 Lokasi:
Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makassar, Lombok
Pilihan Paket & Kontribusi Peserta
|
Paket |
Keterangan |
Biaya |
|---|---|---|
|
Paket A |
Penginapan Single |
Rp 5.500.000 |
|
Paket B |
Penginapan Twin Share |
Rp 5.000.000 |
|
Paket C |
Non Akomodasi |
Rp 4.000.000 |
|
Paket D |
Online via Zoom |
Rp 3.000.000 |
PEMBAYARAN
Pembayaran dapat dilakukan:
On the spot saat registrasi
Atau transfer ke:
Bank BRI
No. Rekening: 0424-01-000925-30-7
A.n.: LINKPEMDA
FASILITAS PESERTA
✔ Akomodasi (Paket A & B)
✔ Sertifikat Bimbingan Teknis
✔ Modul & Makalah
✔ Seminar Kit
✔ Konsumsi & Coffee Break
✔ Rekaman & E-Modul (Peserta Online)
KONTAK RESMI
📱 WhatsApp: +62 813-8766-6605
🌐 Website: www.linkpemda.com
📧 Email: info@linkpemda.com
Penguatan Pengendalian Program Berbasis Kinerja, Data, dan Akuntabilitas
Monitoring dan evaluasi (Monev) merupakan instrumen strategis dalam memastikan pelaksanaan program dan kegiatan OPD berjalan sesuai rencana, tepat sasaran, dan berorientasi pada hasil. Melalui sistem Monev yang efektif, pemerintah daerah dapat mengendalikan capaian kinerja, penggunaan anggaran, serta kualitas output dan outcome pembangunan secara berkelanjutan.
Namun dalam praktiknya, masih banyak OPD yang melaksanakan monitoring dan evaluasi secara manual, parsial, dan belum terintegrasi dengan data kinerja. Pelaporan cenderung bersifat administratif, belum berbasis indikator kinerja yang terukur, serta kurang dimanfaatkan sebagai alat pengambilan keputusan. Kondisi ini berdampak pada lemahnya pengendalian program, rendahnya kualitas evaluasi kinerja, dan meningkatnya risiko temuan pemeriksaan.
Memasuki era digital pemerintahan dan penguatan SAKIP serta Reformasi Birokrasi, sistem monitoring dan evaluasi program daerah dituntut untuk bertransformasi ke arah digital, terintegrasi, dan berbasis kinerja, sehingga mampu mendukung peningkatan kinerja OPD secara nyata.
Peran Strategis Sistem Monitoring Evaluasi Digital dalam Kinerja OPD
Sistem monitoring dan evaluasi program daerah berfungsi sebagai:
Alat pengendalian pelaksanaan program dan kegiatan OPD
Instrumen pengukuran capaian kinerja output dan outcome
Dasar evaluasi efektivitas dan efisiensi anggaran
Pendukung pengambilan keputusan pimpinan daerah
Fondasi peningkatan nilai SAKIP dan Reformasi Birokrasi
Sistem Monev digital yang terintegrasi akan membantu OPD bekerja lebih terukur, transparan, dan responsif terhadap capaian kinerja.
Permasalahan Umum Monitoring Evaluasi Program Daerah
Beberapa permasalahan yang masih sering dihadapi pemerintah daerah antara lain:
Monitoring dan evaluasi masih bersifat manual dan tidak terintegrasi
Indikator kinerja program belum terukur dan konsisten
Data pelaksanaan program tersebar di masing-masing OPD
Laporan Monev belum dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan
Keterbatasan pemahaman ASN terhadap Monev berbasis kinerja dan digital
Jika tidak segera dibenahi, kondisi ini dapat menghambat peningkatan kinerja OPD dan kualitas akuntabilitas pemerintah daerah.
Dampak terhadap Kinerja dan Akuntabilitas Pemerintah Daerah
Monitoring dan evaluasi yang belum optimal dapat menimbulkan dampak sebagai berikut:
Capaian kinerja OPD tidak terukur secara akurat
Program dan kegiatan sulit dikendalikan secara efektif
Lemahnya keterkaitan antara perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
Penurunan kualitas laporan kinerja dan evaluasi SAKIP
Meningkatnya risiko temuan pemeriksaan dan koreksi laporan
Oleh karena itu, penguatan sistem Monev berbasis digital menjadi kebutuhan strategis pemerintah daerah.
Solusi Strategis: Bimbingan Teknis Sistem Monitoring Evaluasi Program Daerah Digital
Sebagai upaya mendukung peningkatan kinerja dan akuntabilitas OPD,
LINKPEMDA (Lembaga Informasi Keuangan dan Pembangunan Daerah) menyelenggarakan:
BIMBINGAN TEKNIS
OPTIMALISASI KINERJA OPD MELALUI SISTEM MONITORING EVALUASI PROGRAM DAERAH DIGITAL
Penguatan Pengendalian Program Berbasis Kinerja dan Data
Tujuan Kegiatan
Bimtek ini bertujuan untuk:
Meningkatkan pemahaman ASN tentang konsep Monev program daerah berbasis kinerja
Membekali peserta dengan pemahaman sistem monitoring dan evaluasi digital
Mendorong integrasi data program, anggaran, dan kinerja OPD
Memperkuat pengendalian pelaksanaan program dan kegiatan
Mendukung peningkatan kualitas SAKIP dan Reformasi Birokrasi
Materi Bimtek
Kebijakan Nasional dan Arah Penguatan Monitoring Evaluasi Program Daerah
Konsep Monitoring dan Evaluasi Program Berbasis Kinerja
Sistem Monev Digital dalam Tata Kelola Pemerintahan Daerah
Penyusunan Indikator Kinerja Program, Output, dan Outcome
Integrasi Monev dengan Perencanaan dan Penganggaran
Pemanfaatan Data Monev untuk Pengambilan Keputusan
Kesalahan Umum Monitoring Evaluasi Program Daerah
Studi Kasus dan Praktik Baik Penerapan Monev Digital
Sasaran Peserta
Bappeda/Bapperida
Inspektorat Daerah
Kepala OPD dan Sekretaris OPD
Pejabat Perencana dan Pengendali Program
Tim SAKIP dan Reformasi Birokrasi
ASN yang menangani monitoring dan evaluasi
Narasumber
Pejabat kementerian terkait, praktisi tata kelola pemerintahan daerah, serta narasumber profesional yang berpengalaman dalam sistem monitoring evaluasi, SAKIP, dan transformasi digital pemerintahan.
JADWAL PELAKSANAAN
Periode: Januari – Desember 2026
Durasi: 2 hari per sesi
Format: Tatap muka & Online (Zoom)
📍 Lokasi:
Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makassar, Lombok
Pilihan Paket & Kontribusi Peserta
|
Paket |
Keterangan |
Biaya |
|---|---|---|
|
Paket A |
Penginapan Single |
Rp 5.500.000 |
|
Paket B |
Penginapan Twin Share |
Rp 5.000.000 |
|
Paket C |
Non Akomodasi |
Rp 4.000.000 |
|
Paket D |
Online via Zoom |
Rp 3.000.000 |
PEMBAYARAN
Pembayaran dapat dilakukan:
On the spot saat registrasi
Atau transfer ke:
Bank BRI
No. Rekening: 0424-01-000925-30-7
A.n.: LINKPEMDA
FASILITAS PESERTA
✔ Akomodasi (Paket A & B)
✔ Sertifikat Bimbingan Teknis
✔ Modul & Makalah
✔ Seminar Kit
✔ Konsumsi & Coffee Break
✔ Rekaman & E-Modul (Peserta Online)
KONTAK RESMI
📱 WhatsApp: +62 813-8766-6605
🌐 Website: www.linkpemda.com
📧 Email: info@linkpemda.com
Regulasi pemerintahan daerah merupakan fondasi utama dalam penyelenggaraan pemerintahan yang tertib, akuntabel, dan berorientasi kinerja. Melalui pemahaman dan implementasi regulasi yang tepat, seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dapat melaksanakan program dan kegiatan secara selaras dengan kebijakan nasional dan daerah.
Namun dalam praktiknya, banyak OPD belum sepenuhnya siap menghadapi dinamika regulasi di awal Tahun 2026. Penyesuaian dokumen perencanaan, kinerja, dan tata kelola sering terlambat dilakukan, bahkan masih mengacu pada pola kerja tahun sebelumnya. Kondisi ini berpotensi menghambat pencapaian target kinerja dan Reformasi Birokrasi.
Memasuki Tahun 2026, penguatan pemahaman dan implementasi regulasi pemerintahan daerah menjadi kebutuhan strategis yang tidak dapat ditunda.
Peran Strategis Regulasi dalam Tata Kelola OPD
Regulasi pemerintahan daerah berfungsi sebagai:
Dasar hukum pelaksanaan tugas dan fungsi OPD
Pedoman penyusunan perencanaan dan penganggaran daerah
Acuan pengelolaan kinerja dan akuntabilitas OPD
Instrumen pengendalian internal dan pengawasan
Fondasi penilaian SAKIP dan Reformasi Birokrasi
Regulasi yang dipahami dan diterapkan dengan baik akan mendorong OPD bekerja lebih tertib, terarah, dan berorientasi hasil.
Permasalahan Umum Implementasi Regulasi di OPD
Beberapa permasalahan yang sering ditemukan di pemerintah daerah antara lain:
Belum optimalnya pemahaman regulasi terbaru
Sebagian ASN belum memahami implikasi kebijakan dan regulasi terbaru terhadap tugas teknis OPD.
Dokumen perencanaan belum disesuaikan
RPJMD, RKPD, Renstra, dan Renja OPD belum sepenuhnya diselaraskan dengan arah kebijakan Tahun 2026.
Pelaksanaan kegiatan masih mengacu pola lama
Perubahan regulasi belum diikuti dengan penyesuaian mekanisme kerja dan pengendalian kinerja.
Kurangnya koordinasi lintas perangkat daerah
Implementasi regulasi sering berjalan parsial dan tidak terintegrasi.
Minim pendampingan teknis
OPD belum mendapatkan pendampingan yang memadai dalam menerjemahkan regulasi ke dalam praktik kerja.
Jika kondisi ini dibiarkan, OPD berpotensi menghadapi permasalahan kinerja dan temuan evaluasi di kemudian hari.
Dampak terhadap Kinerja dan Reformasi Birokrasi
Ketidaksiapan OPD dalam mengimplementasikan regulasi dapat menimbulkan dampak sebagai berikut:
Target kinerja OPD tidak tercapai secara optimal
Program dan kegiatan tidak selaras dengan prioritas nasional
Nilai SAKIP dan Reformasi Birokrasi berpotensi menurun
Meningkatnya koreksi dan revisi dokumen di tengah tahun
Lemahnya akuntabilitas dan tata kelola pemerintahan
Oleh karena itu, kesiapan regulasi sejak awal tahun menjadi faktor penentu keberhasilan kinerja OPD Tahun 2026.
Solusi Strategis: Bimbingan Teknis Update Regulasi Pemerintahan Daerah Tahun 2026
Sebagai upaya mendukung peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan daerah,
LINKPEMDA (Lembaga Informasi Keuangan dan Pembangunan Daerah) menyelenggarakan:
**BIMBINGAN TEKNIS
UPDATE REGULASI PEMERINTAHAN DAERAH TAHUN 2026**
Penguatan Perencanaan, Kinerja, dan Tata Kelola OPD
Tujuan Kegiatan
Meningkatkan pemahaman ASN terhadap regulasi pemerintahan daerah Tahun 2026
Membekali peserta dengan pemahaman implikasi regulasi terhadap OPD
Mendorong penyesuaian dokumen perencanaan dan kinerja sejak awal tahun
Meminimalkan risiko kesalahan administrasi dan temuan evaluasi
Mendukung pencapaian target Reformasi Birokrasi dan SAKIP
Materi Bimtek
Arah Kebijakan Nasional dan Regulasi Pemerintahan Daerah Tahun 2026
Implikasi Regulasi terhadap Perencanaan dan Kinerja OPD
Sinkronisasi RPJMD, RKPD, Renstra, dan Renja OPD
Penguatan Tata Kelola dan Akuntabilitas Kinerja
Peran ASN dalam Implementasi Regulasi Pemerintahan
Kesalahan Umum Implementasi Regulasi di OPD
Studi Kasus dan Praktik Terbaik Pemerintah Daerah
Sasaran Peserta
Sekretaris Daerah dan Asisten Sekda
Kepala OPD dan Sekretaris OPD
Bappeda dan Bagian Organisasi
Pejabat Administrator dan Pengawas
ASN Perencana dan Pejabat Teknis terkait
Narasumber
Pejabat kementerian terkait, praktisi pemerintahan daerah, serta narasumber profesional yang berpengalaman dalam regulasi, perencanaan, dan tata kelola OPD.
JADWAL PELAKSANAAN
Periode: Januari – Desember 2026
Durasi: 2 hari per sesi
Format: Tatap muka & Online (Zoom)
📍 Lokasi:
Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makassar, Lombok
Pilihan Paket & Kontribusi Peserta
|
Paket |
Keterangan |
Biaya |
|---|---|---|
|
Paket A |
Penginapan Single |
Rp 5.500.000 |
|
Paket B |
Penginapan Twin Share |
Rp 5.000.000 |
|
Paket C |
Non Akomodasi |
Rp 4.000.000 |
|
Paket D |
Online via Zoom |
Rp 3.000.000 |
PEMBAYARAN
Pembayaran dapat dilakukan:
On the spot saat registrasi
Atau transfer ke:
Bank BRI
No. Rekening: 0424-01-000925-30-7
A.n.: LINKPEMDA
FASILITAS PESERTA
✔ Akomodasi (Paket A & B)
✔ Sertifikat Bimbingan Teknis
✔ Modul & Makalah
✔ Seminar Kit
✔ Konsumsi & Coffee Break
✔ Rekaman & E-Modul (Peserta Online)
KONTAK RESMI
📱 WhatsApp: +62 813-8766-6605
🌐 Website: www.linkpemda.com
📧 Email: info@linkpemda.com
Proses bisnis merupakan fondasi utama dalam penyelenggaraan pemerintahan yang efektif dan berorientasi kinerja. Melalui proses bisnis yang jelas dan terstruktur, setiap tugas dan fungsi OPD dapat dilaksanakan secara sistematis, terukur, dan akuntabel. Namun dalam praktiknya, banyak OPD belum memiliki proses bisnis yang efektif, bahkan masih mengandalkan pola kerja kebiasaan tanpa alur yang terdokumentasi dengan baik.
Kondisi ini berdampak langsung pada rendahnya kinerja organisasi, tumpang tindih tugas, lambatnya pelayanan publik, serta sulitnya pencapaian target Reformasi Birokrasi. Memasuki Tahun 2026, penguatan proses bisnis OPD menjadi kebutuhan strategis yang tidak dapat ditunda.
Peran Strategis Proses Bisnis dalam Tata Kelola OPD
Proses bisnis OPD berfungsi sebagai:
Peta alur pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi
Dasar penyusunan SOP yang efektif dan aplikatif
Instrumen pengendalian internal dan peningkatan kinerja
Fondasi penilaian SAKIP dan Reformasi Birokrasi
Proses bisnis yang disusun dengan baik akan mendorong organisasi bekerja lebih efisien, terkoordinasi, dan berorientasi hasil.
Penyebab Proses Bisnis OPD Belum Efektif
Beberapa permasalahan umum yang sering ditemukan di OPD antara lain:
Belum dilakukan pemetaan proses bisnis secara menyeluruh
Banyak OPD belum memetakan proses utama, pendukung, dan proses manajerial secara sistematis.
Tidak selaras dengan struktur organisasi dan tupoksi
Proses bisnis tidak diperbarui saat terjadi perubahan kelembagaan atau penyesuaian tugas.
Tidak terintegrasi dengan SOP dan kinerja
Proses bisnis hanya menjadi dokumen formal tanpa keterkaitan dengan SOP dan indikator kinerja.
Minim pemahaman aparatur
Aparatur belum memahami fungsi proses bisnis sebagai alat kerja, bukan sekadar kewajiban administrasi.
Kurangnya pendampingan teknis
Penyusunan proses bisnis sering dilakukan tanpa metodologi yang tepat dan contoh praktik terbaik.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, OPD akan kesulitan meningkatkan kinerja dan memenuhi indikator Reformasi Birokrasi secara optimal.
Dampak terhadap Kinerja dan Reformasi Birokrasi
Proses bisnis yang tidak efektif dapat menimbulkan:
Tumpang tindih tugas dan kewenangan
Pelayanan publik yang lambat dan tidak konsisten
Rendahnya capaian kinerja OPD
Lemahnya integrasi SOP, SAKIP, dan RB
Potensi penurunan nilai evaluasi Reformasi Birokrasi
Oleh karena itu, penguatan proses bisnis OPD merupakan langkah strategis dalam mendukung transformasi birokrasi dan peningkatan kualitas pelayanan publik.
Solusi Strategis: Bimbingan Teknis Penguatan Proses Bisnis OPD Tahun 2026
Sebagai upaya meningkatkan kualitas tata kelola organisasi pemerintah daerah, LINKPEMDA (Lembaga Informasi Keuangan dan Pembangunan Daerah) menyelenggarakan:
BIMBINGAN TEKNIS PENGUATAN PROSES BISNIS OPD TAHUN 2026
Sebagai Dasar Kinerja Organisasi dan Reformasi Birokrasi
Tujuan Kegiatan
Meningkatkan pemahaman aparatur tentang konsep dan fungsi proses bisnis OPD
Membekali peserta teknik pemetaan dan penyusunan proses bisnis yang efektif
Mendorong integrasi proses bisnis dengan SOP dan kinerja OPD
Mendukung pencapaian target Reformasi Birokrasi dan SAKIP
Materi Bimtek
Kebijakan Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Pemerintahan
Konsep dan Pemetaan Proses Bisnis OPD
Keterkaitan Proses Bisnis, SOP, dan Kinerja
Teknik Penyusunan Diagram Proses Bisnis
Integrasi Proses Bisnis dengan SAKIP dan RB
Kesalahan Umum Penyusunan Proses Bisnis OPD
Studi Kasus dan Praktik Pemetaan Proses Bisnis
Sasaran Peserta
Sekretaris Daerah dan Asisten Sekda
Kepala OPD dan Sekretaris OPD
Kepala Bagian Organisasi
Pejabat Administrator dan Pengawas
Tim Penyusun Proses Bisnis dan SOP
ASN dan pejabat teknis terkait
Narasumber
Pejabat dan praktisi Reformasi Birokrasi serta narasumber profesional yang berpengalaman dalam penyusunan proses bisnis dan tata kelola OPD.
JADWAL PELAKSANAAN
Periode: Januari – Desember 2026
Durasi: 2 hari per sesi
Format: Tatap muka & Online (Zoom)
📍 Lokasi:
Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makassar, Lombok
Pilihan Paket & Kontribusi Peserta
|
Paket |
Keterangan |
Biaya |
|---|---|---|
|
Paket A |
Penginapan Single |
Rp 5.500.000 |
|
Paket B |
Penginapan Twin Share |
Rp 5.000.000 |
|
Paket C |
Non Akomodasi |
Rp 4.000.000 |
|
Paket D |
Online via Zoom |
Rp 3.000.000 |
PEMBAYARAN
Pembayaran dapat dilakukan:
On the spot saat registrasi
Atau transfer ke:
Bank BRI
No. Rekening: 0424-01-000925-30-7
A.n.: LINKPEMDA
FASILITAS PESERTA
✔ Akomodasi (Paket A & B)
✔ Sertifikat Bimbingan Teknis
✔ Modul & Makalah
✔ Seminar Kit
✔ Konsumsi & Coffee Break
✔ Rekaman & E-Modul (Peserta Online)
KONTAK RESMI
📱 WhatsApp: +62 813-8766-6605
🌐 Website: www.linkpemda.com
📧 Email: info@linkpemda.com
Standar Operasional Prosedur (SOP) merupakan instrumen penting dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan yang berfungsi sebagai pedoman kerja aparatur agar pelaksanaan tugas berjalan tertib, konsisten, dan akuntabel. Namun dalam praktiknya, banyak SOP di lingkungan OPD belum berjalan efektif, bahkan hanya menjadi dokumen formal tanpa implementasi nyata.
Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas pelayanan publik, efektivitas kinerja organisasi, serta meningkatnya risiko kesalahan administrasi dan temuan pemeriksaan. Memasuki Tahun 2026, OPD dituntut untuk melakukan penyusunan dan penataan ulang SOP agar selaras dengan dinamika kebijakan, struktur organisasi, serta kebutuhan pelayanan masyarakat.
Pentingnya SOP dalam Tata Kelola OPD
SOP memiliki peran strategis sebagai:
Pedoman pelaksanaan tugas dan fungsi aparatur
Instrumen pengendalian internal organisasi
Standar pelayanan dan administrasi pemerintahan
Dasar evaluasi kinerja dan kepatuhan aparatur
SOP yang disusun dengan baik akan mendorong terciptanya tata kelola pemerintahan yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.
Penyebab SOP OPD Tidak Efektif
Beberapa faktor utama yang menyebabkan SOP OPD tidak berjalan optimal antara lain:
SOP tidak sesuai dengan proses bisnis aktual
Banyak SOP disusun hanya menyalin regulasi tanpa menyesuaikan dengan kondisi riil organisasi.
Tidak diperbarui sesuai perubahan kebijakan
Perubahan regulasi, struktur organisasi, dan sistem kerja tidak diikuti dengan pembaruan SOP.
Kurangnya pemahaman aparatur terhadap SOP
SOP belum disosialisasikan dan diinternalisasi secara menyeluruh kepada pegawai.
Tidak terintegrasi dengan sistem kinerja dan pengawasan
SOP tidak dijadikan acuan dalam evaluasi kinerja maupun pengendalian internal.
Minim pendampingan teknis dalam penyusunan SOP
Penyusunan SOP sering dilakukan tanpa metodologi yang tepat dan tanpa pemetaan proses bisnis.
Jika permasalahan ini dibiarkan, SOP tidak hanya kehilangan fungsinya, tetapi juga berpotensi menimbulkan ketidakteraturan kerja dan penurunan kualitas layanan publik.
Solusi Strategis: Penyusunan dan Penataan SOP OPD Tahun 2026
Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan peningkatan kapasitas aparatur dalam menyusun SOP yang berbasis proses bisnis, adaptif terhadap regulasi, dan mudah diimplementasikan.
Sebagai bentuk dukungan peningkatan kapasitas aparatur daerah, LINKPEMDA (Lembaga Informasi Keuangan dan Pembangunan Daerah) menyelenggarakan:
BIMBINGAN TEKNIS PENYUSUNAN DAN PENATAAN SOP OPD TAHUN 2026
Berbasis Proses Bisnis dan Tata Kelola Pemerintahan
Tujuan Kegiatan
Meningkatkan pemahaman aparatur tentang fungsi strategis SOP
Membekali peserta teknik penyusunan SOP yang efektif dan aplikatif
Mendorong penyesuaian SOP dengan proses bisnis dan regulasi terbaru
Meningkatkan tertib administrasi dan kualitas pelayanan OPD
Materi Bimtek
Kebijakan Administrasi Pemerintahan dan Reformasi Birokrasi
Konsep dan Fungsi SOP dalam Organisasi Pemerintah
Pemetaan Proses Bisnis OPD
Teknik Penyusunan SOP yang Efektif dan Implementatif
Penyesuaian SOP dengan Struktur Organisasi dan Regulasi
Kesalahan Umum Penyusunan SOP dan Strategi Perbaikan
Studi Kasus dan Praktik Penyusunan SOP OPD
Sasaran Peserta
Sekretaris Daerah dan Asisten Sekda
Kepala OPD dan Sekretaris OPD
Kepala Bagian/Subbagian
Pejabat Administrator dan Pengawas
Tim Penyusun SOP dan Proses Bisnis
ASN dan pejabat teknis terkait
JADWAL PELAKSANAAN
Periode: Januari – Desember 2026
Durasi: 2 hari per sesi
Format: Tatap muka & Online (Zoom)
📍 Lokasi:
Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makassar, Lombok
Pilihan Paket & Kontribusi Peserta
|
Paket |
Keterangan |
Biaya |
|---|---|---|
|
Paket A |
Penginapan Single |
Rp 5.500.000 |
|
Paket B |
Penginapan Twin Share |
Rp 5.000.000 |
|
Paket C |
Non Akomodasi |
Rp 4.000.000 |
|
Paket D |
Online via Zoom |
Rp 3.000.000 |
PEMBAYARAN
Pembayaran dapat dilakukan:
On the spot saat registrasi
Atau transfer ke:
Bank BRI
No. Rekening: 0424-01-000925-30-7
A.n.: LINKPEMDA
FASILITAS PESERTA
✔ Akomodasi (Paket A & B)
✔ Sertifikat Bimbingan Teknis
✔ Modul & Makalah
✔ Seminar Kit
✔ Konsumsi & Coffee Break
✔ Rekaman & E-Modul (Peserta Online)
KONTAK RESMI
📱 WhatsApp: +62 813-8766-6605
🌐 Website: www.linkpemda.com
📧 Email: info@linkpemda.com