Pada tanggal 30 hingga 31 Maret 2026, Setda Bagian Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Fakfak mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) yang diselenggarakan di Hotel H! Senen, Jakarta. Kegiatan ini mengangkat tema “Integrasi Tupoksi, Perencanaan, dan Pelaporan Kinerja Berbasis SAKIP untuk Meningkatkan Akuntabilitas Instansi Pemerintah.” Program ini merupakan upaya penguatan kapasitas aparatur dalam meningkatkan kualitas perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan kinerja sesuai ketentuan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP).
Bimtek ini menjadi bagian dari respon terhadap tuntutan peningkatan transparansi, profesionalitas, serta efektivitas tata kelola pemerintahan daerah. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya integrasi antara tugas pokok dan fungsi (tupoksi) perangkat daerah dengan siklus perencanaan, penganggaran, implementasi program, serta pelaporan kinerja yang selaras dengan prinsip SAKIP.
Pentingnya integrasi tupoksi dan sakip dalam penyelenggaraan pemerintahan
SAKIP merupakan mandat nasional untuk mendorong birokrasi yang akuntabel, terukur, dan berorientasi hasil. Melalui sistem ini, setiap perangkat daerah dituntut memastikan bahwa seluruh program dan kegiatan memiliki arah yang jelas, indikator yang terukur, serta pelaporan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam pelaksanaannya, integrasi antara tupoksi dengan dokumen perencanaan kinerja menjadi faktor kunci. Tanpa penyelarasan yang baik, pelaksanaan program rawan menjadi tidak efektif dan sulit dievaluasi. Karena itu, bimtek ini membekali peserta untuk memahami bagaimana rumusan kegiatan harus terhubung dengan indikator kinerja, target, serta standar pelaporan yang tepat.
Dengan penguatan pemahaman ini, aparatur—khususnya di lingkungan Setda Bagian Kesra Kabupaten Fakfak—diharapkan mampu meningkatkan kualitas perencanaan dan memperkuat kontribusinya dalam mendukung pembangunan daerah.
Penguatan kapasitas melalui pemahaman pelaporan kinerja berbasis SAKIP
Materi inti dalam bimtek ini mencakup penyusunan Perencanaan Kinerja, Indikator Kinerja Utama (IKU), Perjanjian Kinerja, hingga Laporan Kinerja (LKjIP). Pemahaman bahwa pelaporan kinerja bukan sekadar administrasi, tetapi alat evaluasi untuk memastikan efektivitas program, menjadi salah satu poin penting yang diperkuat dalam kegiatan ini.
Peserta dibimbing untuk:
menyusun sasaran kinerja yang terukur
merumuskan indikator kinerja yang relevan dan realistis
memahami keterkaitan logis antara perencanaan, penganggaran, dan pelaporan
memanfaatkan data sebagai dasar pengambilan keputusan
memastikan pelaporan memenuhi prinsip akuntabilitas
Penguatan kapasitas ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas di daerah, serta memastikan pemenuhan standar SAKIP secara optimal.
Manfaat bagi pemerintah daerah
Pelaksanaan bimtek memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan, antara lain:
peningkatan pemahaman menyeluruh terkait implementasi SAKIP
peningkatan kemampuan teknis aparatur dalam menyusun dokumen kinerja
terbentuknya budaya kerja berbasis kinerja, bukan sekadar pelaksanaan rutinitas
meningkatnya koordinasi antarbagian akibat pentingnya integrasi tupoksi
terwujudnya laporan kinerja yang lebih transparan dan akuntabel
Selain itu, forum bimtek menjadi ruang berbagi pengalaman serta diskusi solusi terkait tantangan penerapan SAKIP di perangkat daerah.
Kesimpulan
Bimbingan Teknis Integrasi Tupoksi, Perencanaan, dan Pelaporan Kinerja Berbasis SAKIP yang dilaksanakan pada tanggal 30–31 Maret 2026 di Jakarta merupakan langkah strategis dalam meningkatkan akuntabilitas dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan Kabupaten Fakfak. Melalui bimtek ini, peserta memperoleh peningkatan kompetensi yang signifikan dalam pengelolaan kinerja. Pemahaman dan keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat diimplementasikan secara nyata dalam pelaksanaan tugas, sehingga mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik dan pembangunan daerah.
Informasi layanan peningkatan kapasitas perangkat daerah
Sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan bimtek ini, instansi pemerintah yang membutuhkan peningkatan kapasitas dalam perencanaan, pengukuran, dan pelaporan kinerja berbasis SAKIP dapat mengikuti program pelatihan lanjutan. Program ini dirancang untuk mendukung perangkat daerah dalam mengimplementasikan SAKIP secara lebih terarah dan berstandar nasional.
Topik pelatihan lanjutan yang tersedia meliputi:
pendalaman penyusunan indikator kinerja utama (IKU) dan cascading kinerja
penyusunan perjanjian kinerja dan pohon kinerja perangkat daerah
penyusunan laporan kinerja instansi pemerintah (LKjIP) berbasis evaluasi
integrasi perencanaan–penganggaran–pelaksanaan–pelaporan sesuai mekanisme SAKIP
reviu internal dan persiapan evaluasi SAKIP kemenpan-rb
Pelatihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing perangkat daerah, baik unit perencanaan, sekretariat daerah, maupun unit teknis pelaksana.
informasi dan pendaftaran
📞 WhatsApp: +62 813-8766-6605
🌐 Website: www.linkpemda.com
📧 Email: info@linkpemda.com
 kompres.png)
Dalam rangka meningkatkan kepatuhan perpajakan pemerintah, transparansi pengelolaan keuangan negara, serta mendukung transformasi digital Direktorat Jenderal Pajak, pemerintah menerapkan pembaruan mekanisme pemotongan, pemungutan, penyetoran, dan pelaporan pajak melalui CoreTax Administration System (CoreTax).
Pembaruan ini merupakan respons terhadap:
CoreTax 2026 menjadi fondasi baru bagi instansi pemerintah dalam melaksanakan kewajiban perpajakan yang lebih akurat, terstandar, dan terdokumentasi secara digital. Panduan teknis ini disusun untuk memberikan langkah implementasi CoreTax di pemerintah daerah serta memastikan pemotongan, pemungutan, dan pelaporan pajak berjalan sesuai ketentuan DJP.
TUJUAN
Panduan teknis CoreTax 2026 bertujuan untuk:
Menjelaskan pembaruan mekanisme perpajakan pemerintah melalui CoreTax.
Memberikan arahan teknis pemotongan, pemungutan, dan pelaporan pajak oleh bendahara.
Memahami penerapan PPh Unifikasi (21/22/23/4(2)).
Menstandarkan prosedur pemungutan PPN Pemerintah.
Meminimalkan kesalahan perhitungan dan pelaporan pajak.
Menjadi acuan pelaksanaan Bimtek dan E-Learning CoreTax bagi OPD.
LANDASAN HUKUM
UU Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP)
Peraturan Pemerintah sebagai turunan pelaksanaan UU HPP
PMK tentang Tata Cara Pemotongan dan Pemungutan Pajak oleh Instansi Pemerintah
PER-DJP tentang CoreTax Administration System
PER-DJP tentang Bukti Potong Unifikasi
Ketentuan tentang Bendahara Pemerintah
SPIP – Sistem Pengendalian Intern Pemerintah
POKOK PEMBARUAN CORETAX 2026
1. Penerapan Bukti Potong Unifikasi
Menggabungkan PPh 21, 22, 23, dan PPh Final 4(2) dalam satu format digital.
Bukti potong terbit otomatis tanpa unggah manual.
Data langsung terhubung dengan SPT Masa.
2. PPN Pemerintah Terintegrasi
Bukti pungut PPN Pemerintah dalam satu sistem digital.
Perhitungan otomatis tarif 11%.
Pengawasan belanja BKP/JKP lebih ketat.
3. Digitalisasi Pelaporan Pajak
CoreTax menyediakan:
input transaksi terstandardisasi,
otomatisasi penghitungan PPh dan PPN,
integrasi e-Billing,
validasi & rekonsiliasi otomatis dengan DJP.
4. Integrasi dengan Sistem Pemerintah
Sinkronisasi data belanja dengan SIPD-RI dan e-Office.
Pelaporan pajak lebih cepat, akurat, dan on-time.
DAMPAK PENERAPAN CORETAX 2026 TERHADAP PEMDA
1. Sistem Perpajakan Pemerintah
Alur pemotongan dan pemungutan lebih terstruktur.
Digitalisasi bukti potong dan e-Billing.
Eliminasi entri ganda dan kesalahan manual.
2. Pelaporan Pajak
SPT Masa PPh Unifikasi dan PPN Pemerintah lebih lengkap.
Validasi otomatis oleh DJP.
Risiko keterlambatan menurun.
3. Audit & Pemeriksaan
Fokus pemeriksaan meliputi:
kesesuaian bukti potong,
akurasi pemungutan PPN,
ketepatan waktu penyetoran,
rekonsiliasi pajak–belanja.
4. SDM Pemerintah Daerah
Kompetensi wajib:
pemahaman Unifikasi,
input dan validasi CoreTax,
rekonsiliasi pajak,
pengelolaan bukti digital.
LANGKAH IMPLEMENTASI CORETAX DI PEMDA
1. Pembentukan Tim Perpajakan Pemerintah
Terdiri dari:
Bendahara Pengeluaran,
Bendahara Penerimaan,
PPK/PPTK,
Operator CoreTax,
Inspektorat Daerah.
2. Penyesuaian SOP
SOP yang wajib diperbarui:
SOP pemotongan & pemungutan,
SOP PPh Unifikasi,
SOP PPN Pemerintah,
SOP penyetoran & pelaporan,
SOP rekonsiliasi pajak–belanja.
3. Pemetaan Transaksi
Klasifikasi objek pajak,
Identifikasi tarif,
Pemetaan transaksi belanja OPD.
4. Pelatihan Teknis (Bimtek)
Meliputi:
pemahaman regulasi,
simulasi perhitungan pajak,
input & validasi CoreTax,
penyusunan e-Billing,
pelaporan SPT Masa.
5. Pilot Project CoreTax
Difokuskan pada:
OPD belanja besar,
OPD dengan banyak vendor,
OPD dengan kontribusi pajak tinggi.
6. Implementasi Penuh
Didukung oleh:
audit internal,
rekonsiliasi bulanan,
pengawasan Inspektorat.
RISIKO & STRATEGI MITIGASI
Risiko:
kesalahan perhitungan pajak,
bukti potong tidak valid,
keterlambatan setor/lapor,
SDM kurang paham sistem,
transaksi tidak sinkron SIPD-RI.
Mitigasi:
pelatihan rutin,
pendampingan teknis,
SOP terstandar,
rekonsiliasi berkala,
validasi dokumen digital.
KESIMPULAN
CoreTax 2026 merupakan sistem perpajakan modern yang wajib diterapkan oleh seluruh instansi pemerintah. Panduan ini membantu pemerintah daerah meningkatkan akurasi pemotongan, pemungutan, penyetoran, dan pelaporan pajak, sekaligus mengurangi risiko temuan pemeriksaan.
Implementasi CoreTax memperkuat transparansi, akuntabilitas, dan kepatuhan perpajakan di seluruh OPD.
📌 PENAWARAN BIMBINGAN TEKNIS (BIMTEK) CORETAX 2026
Tema
“Implementasi CoreTax 2026: Pemotongan, Pemungutan, dan Pelaporan PPh Unifikasi & PPN Pemerintah Daerah”
Durasi
2 Hari Materi Teknis
Materi Inti
Regulasi perpajakan pemerintah
PPh Unifikasi (21/22/23/4(2))
PPN Pemerintah 11%
Simulasi perhitungan pajak
Praktik input & validasi CoreTax
Penyusunan SPT Masa
Penerbitan bukti potong digital
Rekonsiliasi pajak–belanja
Penyusunan SOP perpajakan pemerintah
Output Peserta
Sertifikat
Modul CoreTax
Format SOP
Contoh kasus & jurnal
Template SPT
Pendampingan pascakegiatan
PAKET BIAYA
Paket A – Single Room
Hotel single room, konsumsi lengkap, modul pelatihan
Rp 5.500.000/peserta
Paket B – Twin Share
Hotel twin share, konsumsi lengkap, modul pelatihan
Rp 5.000.000/peserta
Paket C – Non Akomodasi
Konsumsi kegiatan, modul pelatihan
Rp 4.000.000/peserta
SASARAN PESERTA
Bendahara Pengeluaran
PPK/PPTK
Pengelola Keuangan OPD
Operator CoreTax
Inspektorat Daerah
BPKAD
LOKASI PELAKSANAAN
Jakarta • Bandung • Yogyakarta • Surabaya • Bali • Medan • Makassar • Lombok
(Lokasi dapat disesuaikan)
PENDAFTARAN
📞 WhatsApp: +62 813-8766-6605
🌐 Website: www.linkpemda.com
📧 Email: info@linkpemda.com
 kompres.png)
Standar Layanan Digital, SP4N-LAPOR, PPID, Dukcapil Digital, OSS-RBA
Dalam rangka mempercepat transformasi layanan publik yang mudah, cepat, terjangkau, dan adaptif terhadap kondisi geografis Indonesia, pemerintah mendorong digitalisasi pelayanan publik secara menyeluruh, termasuk pada wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Panduan ini disusun sebagai respon terhadap:
Transformasi Pelayanan Publik Digital 3T menjadi fondasi bagi pemerintah daerah dalam menyediakan layanan publik modern, efisien, serta sesuai dengan kemampuan infrastruktur setempat.
Panduan ini menjadi acuan resmi langkah teknis implementasi transformasi digital di seluruh perangkat daerah.
TUJUAN
Panduan teknis ini bertujuan untuk:
Menjelaskan konsep, prinsip, dan standar pelayanan publik digital bagi daerah 3T.
Menyediakan langkah operasional penerapan SP4N-LAPOR, PPID, Dukcapil Digital, dan OSS-RBA di daerah terbatas akses.
Memberikan solusi teknis pelaksanaan layanan digital dalam kondisi minim jaringan.
Menyediakan format SOP, standar layanan, dan pedoman implementasi hybrid manual-digital.
Menjadi dasar pelaksanaan Bimtek, asistensi teknis, dan monitoring implementasi pelayanan publik digital.
LANDASAN HUKUM
UU Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
Perpres SPBE
PermenPAN-RB Standar Pelayanan Publik
PermenPAN-RB tentang SP4N-LAPOR
UU KIP & Peraturan Komisi Informasi
Ketentuan Dukcapil Digital (IKD)
Peraturan OSS-RBA (BKPM / Kemenkop UKM)
SPIP & pedoman pemeriksaan pelayanan publik
Kebijakan Prioritas Layanan Publik Daerah 3T
POKOK TRANSFORMASI PELAYANAN PUBLIK DIGITAL 3T
1. Digitalisasi Layanan Berbasis SPBE
Penegasan implementasi layanan digital untuk:
pelayanan aduan masyarakat
administrasi kependudukan
perizinan berusaha
pelayanan dasar kampung/distrik
keterbukaan informasi publik (PPID)
2. Mekanisme Hybrid “Offline–Online”
Sesuai kondisi daerah 3T:
formulir manual beralih ke digital secara bertahap
sistem batch upload saat jaringan tersedia
layanan keliling distrik/kampung
integrasi layanan bergerak (mobile service)
3. Integrasi Data Layanan Publik
Meliputi:
integrasi aduan (SP4N)
integrasi data layanan Dukcapil
integrasi perizinan berusaha
penyediaan dashboard monitoring
4. Penguatan Pelayanan Informasi Publik
Termasuk:
penyusunan DIP digital
uji konsekuensi
SOP layanan informasi offline-online
katalog informasi publik lokal
5. Digitalisasi Administrasi Kependudukan
Fokus pada:
aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD)
layanan adminduk keliling
pencetakan dokumen berbasis digital
perekaman biometrik di wilayah terpencil
6. Layanan Perizinan Berusaha OSS-RBA
Meliputi:
pendampingan UMKM
pembuatan akun melalui dinas
pendirian MPP Mini / Pojok Layanan
penyederhanaan proses NIB untuk kampung/kelurahan
DAMPAK TRANSFORMASI DIGITAL BAGI PEMDA
1. Peningkatan Kualitas Layanan
waktu layanan lebih cepat
proses transparan
efisiensi biaya operasional
2. Tata Kelola Data Lebih Baik
data layanan terdokumentasi
integrasi lintas sektor lebih kuat
peningkatan nilai evaluasi pelayanan publik
3. Penguatan SPBE
peningkatan nilai domain layanan publik
pembenahan sistem digitalisasi dasar
penguatan keamanan data
4. Dampak Sosial untuk Masyarakat 3T
akses layanan lebih adil
layanan jemput bola lebih terstruktur
layanan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada jaringan internet
LANGKAH IMPLEMENTASI TRANSFORMASI DIGITAL 3T
1. Pembentukan Tim Transformasi Digital
Melibatkan:
Diskominfo
Bagian Organisasi
Dinas Dukcapil
DPMPTSP
PPID Utama
Admin SP4N-LAPOR
2. Analisis Kondisi Daerah
Meliputi:
peta lokasi minim jaringan
kebutuhan layanan prioritas
kapasitas SDM
kesiapan aplikasi
3. Penyusunan Kebijakan & SOP Digital
Dokumen yang diperbarui:
Standar Pelayanan Publik Digital
SOP SP4N-LAPOR
SOP PPID
SOP Dukcapil Digital
SOP OSS-RBA di kampung/distrik
SOP layanan keliling
4. Penyesuaian Sistem Digital
Meliputi:
penyesuaian aplikasi
pembuatan formulir online-offline
dashboard data
penyediaan alat pelayanan keliling
5. Pelatihan Teknis SDM
Fokus:
operator SP4N-LAPOR
petugas PPID
admin Dukcapil
pendamping UMKM (OSS-RBA)
petugas layanan keliling
6. Pilot Project Implementasi
Dilakukan pada:
distrik/kampung prioritas
OPD layanan strategis
wilayah 3T dengan penduduk padat
7. Implementasi Penuh
Didukung oleh:
monitoring bulanan
evaluasi layanan
dashboard kinerja
laporan triwulan
CONTOH SOP HIBRID OFFLINE–ONLINE
1. Penerimaan Aduan Manual
Formulir diterima → dicatat → didigitalisasi → diunggah saat jaringan tersedia.
2. Layanan Dukcapil Keliling
Pendataan biometrik → input manual → sinkronisasi saat sinyal ada.
3. Perizinan UMKM
Pendampingan di lokasi → input NIB oleh petugas → cetak pada kantor distrik/kabupaten.
RISIKO & STRATEGI MITIGASI
Daerah dengan Keterbatasan Jaringan
Strategi Mitigasi:
Penyediaan layanan keliling (mobile service), penggunaan sistem batch upload untuk unggahan data saat jaringan tersedia, serta pemanfaatan jaringan satelit BAKTI Kominfo untuk menjamin akses minimal di wilayah 3T.
SDM Belum Menguasai Layanan Digital
Strategi Mitigasi:
Menyelenggarakan pelatihan berkelanjutan berbasis praktik, coaching clinic, serta pendampingan teknis langsung di daerah untuk memastikan pemahaman dan kemampuan operasional meningkat.
Resistensi terhadap Perubahan
Strategi Mitigasi:
Melakukan sosialisasi yang intensif, menampilkan manfaat nyata digitalisasi, serta menyederhanakan SOP agar mudah diikuti oleh perangkat daerah.
Data Tidak Sinkron Antar-OPD atau Antar-Sistem
Strategi Mitigasi:
Menerapkan rekonsiliasi data secara rutin setiap bulan, penguatan tata kelola data, serta menyediakan dashboard monitoring untuk mengawasi konsistensi dan integrasi data secara real-time.
KESIMPULAN
Transformasi Pelayanan Publik Digital 3T merupakan upaya strategis untuk memastikan masyarakat di daerah terpencil memperoleh akses layanan yang mudah, cepat, dan berkualitas. Panduan teknis ini menjadi pedoman pelaksanaan yang wajib diikuti seluruh OPD agar proses digitalisasi berjalan konsisten dan sesuai kebijakan nasional pelayanan publik.
PENAWARAN BIMBINGAN TEKNIS (BIMTEK)
“Transformasi Pelayanan Publik Digital Daerah Terpencil & 3T (SP4N-LAPOR, PPID, Dukcapil Digital, OSS-RBA)”
📌 Durasi Kegiatan
2 Hari Materi Teknis
(Opsional 3 hari termasuk praktek lapangan)
📌 Materi Inti
Transformasi Pelayanan Publik Digital
Implementasi SPBE
SP4N-LAPOR Operator & Admin
PPID & Penyusunan DIP Digital
Dukcapil Digital & IKD
OSS-RBA untuk 3T
Layanan Keliling – Hybrid Offline–Online
Penyusunan SOP & Standar Pelayanan
Penyusunan Rencana Aksi Daerah
📌 Output Peserta
Sertifikat
SOP Layanan Digital
Template DIP Digital
Template dashboard layanan
Modul lengkap PDF
Video tutorial
Pendampingan pasca bimtek
BIAYA KEGIATAN
Untuk mendukung efektivitas pelaksanaan kegiatan, diberitahukan bahwa biaya kontribusi serta fasilitas peserta adalah sebagai berikut:
Paket A – Dengan Penginapan (Single Room)
Paket B – Dengan Penginapan (Twin Sharing / 2 Orang dalam 1 Kamar)
Paket C – Non Akomodasi (Tanpa Penginapan)
📌 Sasaran Peserta
Diskominfo
Bagian Organisasi
DPMPTSP
Dukcapil
OPD Pelayanan Publik
Pemerintah Distrik/Kampung
PPID
📌 Lokasi Pelaksanaan
Jakarta • Bandung • Yogyakarta • Surabaya • Bali • Makassar • Lombok • Papua
(Bisa menyesuaikan permintaan instansi)
📌 Kontak Pendaftaran
WhatsApp: +62 813-8766-6605
Website: www.linkpemda.com
Email: info@linkpemda.com
Standar Akuntansi Pemerintahan 2026 – Pembaruan, Penyesuaian, dan Dampaknya terhadap LKPD
Dalam rangka meningkatkan kualitas tata kelola keuangan daerah yang transparan, akuntabel, dan sesuai prinsip good governance, pemerintah melakukan pembaruan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) Tahun 2026. Pembaruan ini merupakan respon terhadap:
SAP 2026 menjadi fondasi baru bagi pemerintah daerah dalam penyusunan dan penyajian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) yang lebih informatif, relevan, serta dapat diaudit.
Panduan ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai langkah teknis implementasi SAP 2026 di pemerintah daerah.
TUJUAN
Panduan teknis SAP 2026 bertujuan untuk:
Menjelaskan pembaruan struktur, prinsip, dan ketentuan SAP 2026 secara lengkap.
Memberikan arah teknis implementasi SAP 2026 di seluruh OPD.
Meminimalkan kesalahan pencatatan dan klasifikasi akun pada LKPD.
Menyediakan acuan penyusunan CaLK sesuai format SAP 2026.
Menjadi dasar pelaksanaan Bimtek, asistensi teknis, dan evaluasi implementasi SAP di daerah.
LANDASAN HUKUM
UU Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah
PP Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan
Permendagri Pengelolaan Keuangan Daerah
Kebijakan Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP) 2026
Pedoman Pemeriksaan Keuangan BPK
Standar Pengawasan Intern Pemerintah (SPIP)
POKOK PEMBARUAN SAP 2026
1. Penataan Akun Pendapatan dan Belanja
Penyempurnaan klasifikasi pendapatan pajak & retribusi
Penegasan perlakuan akrual penuh
Penyesuaian akun belanja modal & operasional
2. Pengukuran Aset Berbasis Nilai Wajar
Penilaian ulang aset bersejarah
Penyempurnaan penyusutan
Penajaman pembagian aset idle dan aset produktif
3. Transaksi Digital Pemerintah
SAP 2026 mengatur perlakuan akuntansi untuk:
transaksi e-wallet pemerintah
payment gateway pemerintah
aset digital instansi
transaksi elektronik antarinstansi
4. Reformulasi Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK)
Meliputi:
pengungkapan risiko fiskal daerah
progres tindak lanjut temuan BPK
rekonsiliasi SIPD–RI
pengungkapan aset idle dan komitmen belanja
DAMPAK PENERAPAN SAP 2026 TERHADAP PEMDA
1. Sistem Akuntansi
pembaruan chart of accounts
penyesuaian SIPD–RI
rekonsiliasi keuangan yang lebih ketat
2. LKPD
perubahan struktur LRA, LO, dan LPE
CaLK semakin detail dan teknis
neraca lebih komprehensif dan informatif
3. Audit BPK
Penajaman pemeriksaan pada:
aset tetap dan penyusutan
pengakuan pendapatan berbasis akrual
belanja dibayar di muka
validitas aset dan persediaan
4. SDM
Kebutuhan kompetensi baru:
akuntansi akrual lanjutan
manajemen aset berbasis nilai wajar
transaksi digital & sistem integratif
LANGKAH IMPLEMENTASI SAP 2026 DI PEMDA
1. Pembentukan Tim SAP 2026
Terdiri dari:
Tim Akuntansi
Tim Aset
Tim Inspektorat
Admin SIPD–RI
2. Penyesuaian Kebijakan Akuntansi Pemerintah Daerah
Dokumen yang harus diperbarui:
Kebijakan Akuntansi SAP 2026
SOP jurnal & pengakuan transaksi
Format rekonsiliasi terbaru
3. Pembaruan Sistem SIPD–RI
Meliputi:
perubahan akun
validasi neraca awal
penyesuaian jurnal otomatis
4. Pelatihan Teknis SDM
Dengan fokus pada:
pemahaman SAP 2026
simulasi jurnal terbaru
penyusunan CaLK 2026
penyusunan LKPD berbasis SAP 2026
5. Pilot Project Implementasi
Pada:
OPD Pengelola Aset
OPD PAD
OPD belanja modal besar
6. Implementasi Penuh
Dilakukan bersama:
audit internal
rekonsiliasi bulanan
penyusunan CaLK yang diperkuat
CONTOH JURNAL SAP 2026
1. Pendapatan Pajak – Akrual
Dr Piutang Pajak
Cr Pendapatan Pajak
2. Belanja Modal
Dr Aset Tetap
Cr Belanja Modal
3. Penyusutan Aset
Dr Beban Penyusutan
Cr Akumulasi Penyusutan
4. Belanja Dibayar di Muka
Dr Beban Dibayar di Muka
Cr Kas
5. Pendapatan Transfer
Dr Piutang Transfer
Cr Pendapatan Transfer
RISIKO & STRATEGI MITIGASI
Risiko
Kesalahan klasifikasi akun
Data aset tidak valid
SIPD belum menyesuaikan
SDM belum memahami SAP 2026
Mitigasi
pelatihan rutin
asistensi teknis
rekonsiliasi aset–akuntansi
penyempurnaan kebijakan daerah
KESIMPULAN
SAP 2026 merupakan standar baru yang wajib dipahami seluruh perangkat daerah guna memastikan penyusunan LKPD yang akuntabel, transparan, dan memenuhi persyaratan audit BPK. Panduan teknis ini menjadi pedoman bagi pemerintah daerah untuk memastikan penerapan SAP 2026 berjalan sesuai ketentuan nasional.
PENAWARAN BIMBINGAN TEKNIS (BIMTEK) SAP 2026
Untuk mendukung implementasi SAP 2026 secara optimal, LinkPemda menyediakan Program Bimtek dengan fasilitas lengkap.
📌 Tema Bimtek
“Implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) 2026 & Penyusunan LKPD Berbasis SAP Terbaru”
📌 Durasi
2 Hari Materi Teknis
📌 Materi Inti
Pemahaman SAP 2026 terbaru
Penyesuaian akun & kebijakan akuntansi
Simulasi jurnal & studi kasus
Penyusunan LKPD 2026
Penyusunan CaLK lengkap
Rekonsiliasi aset & akuntansi
Penilaian aset nilai wajar
Penyusunan KAPD
📌 Output Peserta
Sertifikat
Modul lengkap SAP 2026
SOP & format dokumen
Contoh jurnal lengkap
Template CaLK 2026
Pendampingan pasca kegiatan
📌 PAKET BIAYA
Paket A – Dengan Penginapan (Single Room)
Rp 5.500.000 / peserta
Fasilitas: 1 kamar untuk 1 peserta
Paket B – Dengan Penginapan (Twin Share)
Rp 5.000.000 / peserta
Fasilitas: 1 kamar untuk 2 peserta
Paket C – Non Akomodasi
Rp 4.000.000 / peserta
Tanpa penginapan hotel
📌 Sasaran Peserta
BPKAD
Inspektorat
Bapenda
OPD Pengelola Aset
Kasubbag Keuangan / PPK / Bendahara
📌 Lokasi Pelaksanaan
Jakarta • Bandung • Yogyakarta • Surabaya • Bali • Medan • Makassar • Lombok
Lokasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan instansi.
📌 Pendaftaran
📞 WhatsApp: +62 813-8766-6605
🌐 Website: www.linkpemda.com
📧 Email: info@linkpemda.com
Berdasarkan Perpres Nomor 3 Tahun 2026 tentang Percepatan Penanganan Anak Tidak Sekolah
Perpres Nomor 3 Tahun 2026 diterbitkan sebagai langkah strategis pemerintah dalam menurunkan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) secara nasional melalui pendekatan lintas kementerian dan lintas perangkat daerah.
Keberadaan ATS berdampak langsung pada:
Untuk itu, Pemerintah Daerah wajib menyusun strategi teknis, melakukan pendataan berbasis NIK, dan melaksanakan intervensi berkelanjutan sesuai amanat Perpres 3/2026.
Dasar Hukum
Materi ini disusun berdasarkan regulasi terbaru, yaitu:
Regulasi Utama
Perpres Nomor 3 Tahun 2026 tentang Percepatan Penanganan Anak Tidak Sekolah
UU 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah
UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
PP 57/2021 jo. PP 7/2024 tentang Standar Nasional Pendidikan
Permendikbudristek yang relevan:
Permendikbud tentang Pendataan Pendidikan
Permendikbud tentang SPM Pendidikan
Permensos terkait perlindungan anak & pemerlu pelayanan kesejahteraan sosial (PPKS)
SE Kemdikbud & Kemensos 2025–2026 tentang penanganan ATS
Definisi Operasional (Versi Nasional)
ATS (Anak Tidak Sekolah): Anak usia 7–18 tahun yang tidak bersekolah, putus sekolah, atau tidak melanjutkan pendidikan.
APM/APS: Angka Partisipasi Murni dan Angka Partisipasi Sekolah.
Integrasi NIK: Pemadanan data ATS berdasarkan database Dukcapil.
Intervensi ATS: Langkah pemerintah mengembalikan anak ke jalur pendidikan formal, nonformal, atau vokasi.
Tujuan Bimtek
Tujuan Umum
Memperkuat kemampuan ASN dalam melaksanakan program penanganan ATS sesuai Perpres 3/2026 secara terpadu dan berbasis data.
Tujuan Khusus
Meningkatkan kompetensi ASN dalam pendataan ATS berbasis NIK.
Memahami alur kerja lintas OPD (Disdik – Dinsos – Dukcapil – Kecamatan – Desa).
Menyusun rencana intervensi ATS tingkat kab/kota.
Meningkatkan kemampuan menyusun laporan capaian ATS ke pemerintah pusat.
Melakukan analisis kendala dan perumusan solusi strategis.
Gambaran Umum Program ATS Nasional 2026
Target Nasional 2026
Penurunan ATS minimal 4,8%
Validasi data ATS 100%
Intervensi 3 kategori:
Kembali ke sekolah formal
Paket A/B/C
Pendidikan vokasi / keterampilan
Opsi Layanan Pendidikan ATS
SD, SMP, SMA/SMK reguler
PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat)
LKP (Lembaga Kursus & Pelatihan)
Pelatihan vokasi kolaborasi DUDI
Pendidikan kesetaraan digital
Alur Kerja Penanganan ATS (Flowchart 2026)
1. Pendataan ATS (Berbasis NIK)
Sumber data utama:
EMIS
Dapodik
DTKS
Data BPS
Data Dukcapil
Proses:
Ekstraksi data by-name-by-address
Identifikasi status sekolah
Validasi lapangan (desa/kelurahan)
2. Pemetaan Kategori ATS
Kategori ATS hasil Perpres 3/2026:
Kategori A — Siap Kembali Bersekolah
Tidak ada hambatan ekonomi atau sosial berat
Hanya perlu fasilitasi administrasi
Kategori B — Rentan (Butuh Intervensi)
Hambatan ekonomi
Putus sekolah karena biaya
Butuh program PIP/KIP/PKH
Kategori C — Berat
Bekerja
Pernikahan dini
Disabilitas
Faktor sosial & lingkungan
Butuh intervensi lintas dinas
3. Intervensi ATS
Intervensi sesuai kategori, antara lain:
A. Intervensi Administratif
Pembuatan dokumen kependudukan
Pembuatan NISN
Kelengkapan raport & ijazah
B. Intervensi Ekonomi
PIP / KIP
Bantuan seragam
Bantuan transportasi
Subsidi BOS daerah
C. Intervensi Sosial
Pendampingan kasus
Konseling keluarga
Pelibatan Pekerja Sosial
D. Intervensi Pendidikan Alternatif
Paket A/B/C
Vokasi
Pelatihan cepat kerja
4. Pengembalian ke Jalur Pendidikan
Penempatan sekolah terdekat
Penetapan rombel
Pendampingan selama 3 bulan
Evaluasi capaian hasil belajar
5. Pelaporan & Monitoring
Tingkat pelaporan:
Laporan Kabupaten/Kota
Rekap ATS per desa
Rekap intervensi per kategori
Capaian pengembalian ke sekolah
Kendala & rekomendasi
Laporan ke Pemerintah Pusat
Disampaikan via:
Kemendikbud
Kemensos (jika anak berada di DTKS)
Kemendagri (integrasi NIK)
Format Dokumen Pendukung (Siap Pakai)
1. Format SK Tim Penanganan ATS
Berisi:
Ketua: Sekda
Wakil: Kepala Dinas Pendidikan
Anggota: Dinas Sosial, Dukcapil, DP3A, Camat, Desa, Puskesmas
2. Format Instrumen Pendataan ATS
Kolom wajib:
NIK
Nama
Usia
Alamat
Status pendidikan terakhir
Alasan tidak sekolah
Kategori (A/B/C)
Rekomendasi intervensi
Rencana masuk sekolah
3. Format Rencana Intervensi (Individual Action Plan)
Identitas anak
Masalah utama
Intervensi yang dibutuhkan
OPD penanggung jawab
Target waktu masuk sekolah
Catatan pendamping lapangan
Tantangan Daerah dalam Penanganan ATS
Ketidaksinkronan data pusat–daerah
Keterbatasan anggaran intervensi
Peran desa/kelurahan belum optimal
Keterbatasan rombel sekolah
Tidak ada petugas khusus pendamping ATS
Solusi diberikan dalam sesi teknis BIMTEK.
Output Bimtek
ASN mampu:
Melakukan pendataan berbasis NIK
Melakukan profiling ATS
Menetapkan kategori A/B/C
Menyusun rencana intervensi
Membuat laporan standar nasional 2026
Menyusun rekomendasi kebijakan ATS tingkat daerah
Penutup
Perpres 3/2026 menegaskan bahwa penanganan ATS adalah tugas bersama lintas sektor. Kesuksesan penanganan ATS di daerah sangat bergantung pada kemampuan ASN dalam pendataan, intervensi, dan pelaporan secara akurat.
Bimtek ini menjadi instrumen penting untuk memperkuat SDM pemerintah daerah dalam menurunkan angka ATS sekaligus meningkatkan capaian pembangunan manusia di daerah.
Informasi Pelaksanaan Bimtek
📞 WhatsApp: +62 813-8766-6605
🌐 Website: www.linkpemda.com
📧 Email: info@linkpemda.com