Dari Nilai CC/C Menuju B/A Secara Sistematis, Aman Evaluasi, dan Berkelanjutan
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) merupakan instrumen utama dalam menilai kualitas tata kelola pemerintahan daerah, khususnya keterkaitan antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan program, serta capaian kinerja yang dihasilkan. Nilai SAKIP menjadi indikator penting efektivitas penyelenggaraan pemerintahan sekaligus dasar evaluasi Reformasi Birokrasi.
Dalam praktiknya, masih banyak pemerintah daerah dan OPD yang mengalami stagnasi nilai SAKIP pada kategori CC atau C selama bertahun-tahun. Permasalahan ini umumnya disebabkan oleh indikator kinerja yang tidak berorientasi outcome, pohon kinerja yang tidak logis, lemahnya keterkaitan perencanaan dan anggaran, serta pelaporan kinerja yang bersifat administratif dan belum mencerminkan hasil nyata.
Oleh karena itu, diperlukan panduan teknis nasional yang tidak hanya menjelaskan konsep SAKIP, tetapi memberikan arah penyelamatan (rescue) secara sistematis, terukur, dan aman dalam proses evaluasi.
Tujuan Panduan Teknis
Panduan teknis ini disusun untuk:
Memberikan arah perbaikan SAKIP secara terstruktur dan berjenjang
Membantu OPD keluar dari stagnasi nilai CC/C menuju B/A
Menjadi acuan teknis perbaikan indikator, dokumen, dan pelaporan kinerja
Meningkatkan kesiapan OPD dalam menghadapi evaluasi SAKIP
Mendorong peningkatan akuntabilitas kinerja yang berkelanjutan
Ruang Lingkup Panduan Teknis
Panduan Teknis Nasional Penyelamatan SAKIP 2026 meliputi:
Identifikasi Akar Masalah SAKIP
Penyebab umum stagnasi nilai CC/C
Kesalahan desain indikator dan pohon kinerja
Ketidaksinkronan perencanaan, anggaran, dan kinerja
Penataan Indikator Kinerja Berbasis Outcome
Prinsip penyusunan IKU yang tepat sasaran
Kesalahan indikator yang sering terjadi
Contoh perbaikan indikator kinerja OPD
Penyusunan dan Perbaikan Pohon Kinerja
Logika hubungan tujuan–sasaran–program–kegiatan
Penyelarasan pohon kinerja lintas OPD
Kesalahan fatal dalam penyusunan pohon kinerja
Integrasi Perencanaan, Penganggaran, dan Kinerja
Sinkronisasi RPJMD, RKPD, RKA, dan kinerja
Penguatan keterkaitan output, outcome, dan anggaran
Pengendalian program berbasis kinerja
Penguatan Pelaporan dan Evaluasi Kinerja
Penyusunan LKjIP yang substantif dan evaluatif
Pemanfaatan data kinerja sebagai dasar pengambilan keputusan
Kesalahan umum pelaporan kinerja yang menurunkan nilai SAKIP
Strategi Aman Menghadapi Evaluasi SAKIP
Kesiapan dokumen dan data pendukung
Pola penilaian dan fokus evaluator
Strategi perbaikan berkelanjutan pasca evaluasi
Prinsip Penyelamatan SAKIP
Panduan teknis ini disusun berdasarkan prinsip:
Sistematis: perbaikan dilakukan secara bertahap dan terukur
Aman Evaluasi: fokus pada substansi yang dinilai evaluator
Berbasis Masalah Nyata: bukan sekadar normatif
Berkelanjutan: mendorong perbaikan jangka panjang
Sasaran Pengguna Panduan
Panduan teknis ini ditujukan bagi:
Bappeda / Bapperida
Inspektorat Daerah
Kepala OPD dan Sekretaris OPD
Tim SAKIP dan Reformasi Birokrasi
Pejabat perencana dan pengendali program
ASN pengelola kinerja dan pelaporan
Manfaat Penerapan Panduan Teknis
Dengan menerapkan panduan ini, pemerintah daerah diharapkan:
Memiliki arah perbaikan SAKIP yang jelas dan terukur
Menghindari perbaikan semu yang tidak berdampak pada nilai
Meningkatkan kualitas akuntabilitas kinerja OPD
Mendorong peningkatan nilai SAKIP secara realistis
Mendukung percepatan Reformasi Birokrasi daerah
Catatan Strategis LINKPEMDA
Panduan ini menjadi fondasi utama bagi pengembangan:
Rescue Program SAKIP (Klinik & Pendampingan)
Bimtek Nasional & In-House OPD
Executive Class Kepala OPD
📌 Panduan teknis ini bukan sekadar bacaan, tetapi peta jalan penyelamatan SAKIP.
Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) dan evaluasi AKIP merupakan instrumen strategis dalam meningkatkan akuntabilitas, transparansi, dan profesionalisme penyelenggaraan pemerintahan. Memasuki Tahun 2026, seluruh ASN dituntut untuk menguasai teknik penyusunan LAKIP yang tepat serta melakukan evaluasi AKIP berbasis kinerja untuk mendukung tata kelola pemerintahan yang efektif.
Panduan teknis ini disusun sebagai acuan bagi SKPD/OPD dalam memahami dan mengimplementasikan regulasi LAKIP & AKIP secara tepat, guna meminimalkan risiko kesalahan administrasi, temuan audit, dan kelemahan pengendalian kinerja.
Ruang Lingkup Panduan Teknis LAKIP & AKIP 2026
Panduan teknis ini mencakup tahapan utama penyusunan LAKIP dan evaluasi AKIP, yaitu:
1. Perencanaan Kinerja
Penyusunan sasaran strategis SKPD/OPD
Penetapan indikator kinerja utama (IKU) dan indikator kinerja kegiatan
Integrasi rencana kinerja dengan RKPD dan dokumen perencanaan lainnya
2. Penyusunan LAKIP
Pengumpulan data kinerja instansi
Analisis capaian kinerja dan target yang telah ditetapkan
Penyusunan dokumen LAKIP berbasis kinerja yang akurat dan komprehensif
3. Evaluasi AKIP
Penilaian capaian kinerja SKPD/OPD terhadap target strategis
Identifikasi kendala dan perbaikan proses
Penyusunan rekomendasi peningkatan kinerja
4. Integrasi Sistem Pelaporan
Penggunaan SAKIP & e-LKD dalam penyusunan LAKIP
Sinkronisasi data kinerja dengan laporan keuangan dan perencanaan
Penyusunan laporan akuntabel untuk audit dan pemeriksaan
5. Pengendalian, Monitoring, dan Audit Kinerja
Pengendalian internal penyusunan LAKIP & AKIP
Mitigasi risiko temuan audit dan permasalahan hukum
Optimalisasi proses evaluasi kinerja berbasis data
Tantangan LAKIP & AKIP Pemerintah Daerah Tahun 2026
Perubahan regulasi dan standar penilaian kinerja yang dinamis
Tingginya risiko kesalahan prosedur dalam penyusunan LAKIP
Optimalisasi pemanfaatan SAKIP & e-LKD
Peningkatan kualitas pengendalian dan temuan audit
Keterbatasan pemahaman teknis aparatur mengenai evaluasi kinerja
Tujuan
Meningkatkan pemahaman aparatur dalam penyusunan LAKIP Tahun 2026
Memperkuat kemampuan evaluasi AKIP berbasis kinerja
Mengurangi risiko administrasi dan temuan audit
Mendorong pelaporan kinerja yang profesional, transparan, dan akuntabel
PENAWARAN BIMBINGAN TEKNIS NASIONAL
Judul Kegiatan
Bimbingan Teknis Nasional
“Penyusunan LAKIP & Evaluasi AKIP Berbasis Kinerja Tahun 2026”
Materi Bimbingan Teknis
Kebijakan dan regulasi LAKIP & AKIP terbaru Tahun 2026
Perencanaan kinerja SKPD/OPD dan penyusunan indikator kinerja
Pengumpulan data dan analisis capaian kinerja
Penyusunan LAKIP berbasis kinerja
Evaluasi AKIP dan penyusunan rekomendasi peningkatan kinerja
Integrasi sistem SAKIP & e-LKD dalam pelaporan kinerja
Studi kasus dan praktik terbaik evaluasi kinerja instansi pemerintah
👥 Sasaran Peserta
Kepala SKPD/OPD
Pejabat Pengelola Informasi & Evaluasi Kinerja
Pejabat Administrator dan Pengawas terkait
Staf Perencana dan pejabat teknis lainnya
Metode Pelaksanaan
Pemaparan kebijakan dan teknis
Diskusi permasalahan nyata di instansi peserta
Studi kasus LAKIP & AKIP
Tanya jawab dan rekomendasi teknis
JADWAL PELAKSANAAN
Periode: Januari – Desember 2026
Durasi: 2 hari per sesi
Format: Tatap muka & Online (Zoom)
📍 Lokasi:
Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makassar, Lombok
Pilihan Paket & Kontribusi Peserta
|
Paket |
Keterangan |
Biaya |
|---|---|---|
|
Paket A |
Penginapan Single |
Rp 5.500.000 |
|
Paket B |
Penginapan Twin Share |
Rp 5.000.000 |
|
Paket C |
Non Akomodasi |
Rp 4.000.000 |
|
Paket D |
Online via Zoom |
Rp 3.000.000 |
PEMBAYARAN
Pembayaran dapat dilakukan:
On the spot saat registrasi
Atau transfer ke:
Bank BRI
No. Rekening: 0424-01-000925-30-7
A.n.: LINKPEMDA
FASILITAS PESERTA
✔ Akomodasi (Paket A & B)
✔ Sertifikat Bimbingan Teknis
✔ Modul & Makalah
✔ Seminar Kit
✔ Konsumsi & Coffee Break
✔ Rekaman & E-Modul (Peserta Online)
KONTAK RESMI
📱 WhatsApp: +62 813-8766-6605
🌐 Website: www.linkpemda.com
📧 Email: info@linkpemda.com
1. Bimtek Keuangan Daerah & Penganggaran
Fokus: perencanaan, penganggaran, penatausahaan, pelaporan & akuntabilitas keuangan.
Materi Utama 2026:
Penyusunan APBD & RKA sesuai regulasi terbaru (Permendagri 77/2020 & update 2026).
Teknis: penyusunan struktur RKA, penginputan SIPD, review program/kegiatan, rekonsiliasi anggaran.
Penatausahaan, Akuntansi & Pelaporan Keuangan Daerah (SAP & SIPD).
Teknis: jurnal, neraca, aset, konsolidasi data, dan penyusunan LKPD.
Optimalisasi PAD 2026 (Pajak Daerah – Retribusi Daerah).
Teknis: strategi peningkatan PAD, inovasi digital pajak daerah, pemutakhiran data wajib pajak.
Bimtek Bendahara (BPP, Bendahara Pengeluaran, Penerimaan).
Teknis: SPJ, perpajakan daerah, LPJ, bukti pertanggungjawaban.
2. Bimtek Pengadaan Barang/Jasa (PBJ)
Materi Utama 2026:
Implementasi Perpres 16/2018 & Perpres 12/2021 – Update 2026.
E-Katalog Versi Terbaru (versi 6+) – Tata Cara, Penayangan, Produk Lokal.
Sourcing & Swakelola – Penyusunan HPS, KAK, RUP, dan Evaluasi Penawaran.
Urgensi: audit PBJ meningkat → perlu peningkatan kepatuhan dan pengelolaan risiko.
3. Bimtek BLUD (Kesehatan & Non-Kesehatan)
Materi Utama 2026:
Penyusunan RBA BLUD 2026
Penilaian Kinerja BLUD & Perhitungan Tarif Layanan
Audit Internal & Tata Kelola BLUD
Pola Pengelolaan Keuangan BLUD sesuai Permendagri 79
Urgensi: banyak daerah sedang proses penetapan & pemantapan BLUD baru.
4. Bimtek Manajemen ASN & SDM Pemerintah
Materi Utama 2026:
TPP ASN sesuai Permendagri 15/2024 – Penyusunan Formula & Indikator Kinerja.
Manajemen Talenta ASN (KEPKA BKN 411/2025).
Evaluasi Kinerja ASN & Penyusunan SKP Digital.
Penyusunan Analisis Jabatan (ANJAB) & Beban Kerja (ABK).
Urgensi: semua daerah wajib melakukan transformasi kinerja ASN.
5. Bimtek Perencanaan Daerah
Materi Utama 2026:
Penyusunan RKPD 2026 & KUA-PPAS 2026.
Monitoring & Evaluasi Pembangunan (Sistem e-Monev).
Perencanaan Berbasis Data (Data Desa, Podes, Kemiskinan Ekstrem).
6. Bimtek Pembangunan & Infrastruktur Daerah
Materi Utama 2026:
Pengawasan Proyek Konstruksi
Pengelolaan Aset Daerah (BMD) – Pengadaan, Inventarisasi & Penilaian.
Manajemen Risiko Proyek Pemerintah.
7. Bimtek Pemerintahan Umum & Pelayanan Publik
Materi Utama 2026:
Penyusunan SOP dan Peta Proses Bisnis OPD.
Reformasi Birokrasi Tematik & Peningkatan Pelayanan Publik.
Penguatan Kelembagaan & Tata Naskah Dinas.
8. Bimtek Sektor Pertanian, Ketahanan Pangan & Perikanan
Materi Utama 2026:
Peningkatan Kapasitas SDM Pertanian – Inovasi, Regulasi & Kinerja Daerah.
Manajemen Risiko Pertanian & Ketahanan Pangan.
Pengembangan Komoditas Unggulan & Digitalisasi Pertanian.
9. Bimtek Kesehatan & Layanan Publik
Materi Utama 2026:
Rekam Medis Elektronik (RME) & Integrasi Layanan Primer (ILP).
Manajemen Program Kesehatan Prioritas 2026.
Akreditasi Puskesmas & RSUD.
10. Bimtek Administrasi Pemerintahan
Materi Utama 2026:
Tata Persuratan Dinas & Arsip Dinamis.
Teknik Penyusunan Laporan Pemerintahan (SPJ, LKPJ, LPPD).
Penguatan Kapasitas Kecamatan & Kelurahan.
📍 Lokasi Pelaksanaan
Seluruh materi Bimtek 2026 diselenggarakan setiap minggu di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali.
Tersedia juga In-House Training langsung ke kantor OPD.
📞 Informasi & Pendaftaran
Lembaga Informasi Keuangan dan Pembangunan Daerah (LINKPEMDA)
Website: www.linkpemda.com
WhatsApp: +62 813-8766-6605
Email: info@linkpemda.com
Kebijakan, SOP & Audit Kepatuhan untuk Meningkatkan Tata Kelola dan Keamanan Data
Penerapan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) menjadi tonggak penting bagi dunia usaha di Indonesia. Regulasi ini menandai era baru dalam tata kelola informasi dan keamanan data pribadi yang semakin relevan di tengah pesatnya transformasi digital.
Bagi perusahaan, kepatuhan terhadap UU PDP bukan hanya sekadar tuntutan hukum, tetapi juga komitmen terhadap etika bisnis, kepercayaan pelanggan, dan reputasi korporasi.
🔍 Dasar Hukum Pelaksanaan UU PDP
UU No. 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi
UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) beserta perubahannya
PP No. 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik
Permen Kominfo No. 20 Tahun 2016 tentang Perlindungan Data Pribadi dalam Sistem Elektronik
Standar ISO/IEC 27001 dan 27701 tentang Keamanan Informasi dan Manajemen Privasi Data
🧭 Langkah-Langkah Penerapan UU PDP di Perusahaan
1. Identifikasi dan Pemetaan Data Pribadi
Perusahaan perlu memetakan seluruh data pribadi yang dikumpulkan dan diolah, baik milik pelanggan, karyawan, maupun mitra bisnis. Langkah ini menjadi dasar bagi pengamanan data secara efektif.
2. Penyusunan Kebijakan Perlindungan Data (Data Protection Policy)
Kebijakan ini harus menjelaskan mekanisme pengumpulan, penyimpanan, pemrosesan, hingga penghapusan data pribadi, serta hak-hak subjek data.
3. Pembuatan SOP Pengelolaan dan Tanggap Darurat Data
SOP wajib mengatur tahapan kerja, pelaporan, dan tindakan mitigasi ketika terjadi kebocoran data (Data Breach Response SOP).
4. Pembentukan Data Protection Officer (DPO)
Perusahaan perlu menunjuk DPO sebagai pengawas pelaksanaan kebijakan dan penghubung dengan otoritas pengawas.
5. Audit Kepatuhan Internal (Compliance Audit)
Audit berkala membantu memastikan bahwa sistem dan prosedur perusahaan sesuai dengan ketentuan hukum serta standar internasional.
💡 Manfaat Penerapan UU PDP
Meningkatkan kepercayaan pelanggan dan mitra bisnis
Memperkuat reputasi dan kredibilitas perusahaan
Mengurangi risiko kebocoran data dan sanksi hukum
Mendukung Good Corporate Governance (GCG)
⚖️ Sanksi atas Pelanggaran UU PDP
|
Jenis Pelanggaran |
Sanksi Administratif |
Sanksi Pidana |
|
Penggunaan data tanpa izin |
Teguran tertulis & denda hingga Rp2 miliar |
Penjara hingga 5 tahun |
|
Kebocoran data akibat kelalaian |
Pembatasan pemrosesan data |
Penjara hingga 4 tahun |
|
Penjualan atau pengungkapan data pribadi |
Pencabutan izin usaha |
Penjara hingga 6 tahun + denda hingga Rp6 miliar |
🏢 Workshop & Bimbingan Teknis Penerapan UU PDP
Sebagai bentuk dukungan terhadap dunia usaha, LINKPEMDA menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Workshop bertajuk:
“Panduan Praktis Penerapan UU Perlindungan Data Pribadi (UU PDP): Kebijakan, SOP & Audit Kepatuhan.”
Materi Pelatihan:
Regulasi dan tanggung jawab hukum perusahaan
Penyusunan kebijakan & SOP Perlindungan Data
Pembentukan DPO dan tim kepatuhan internal
Simulasi penanganan kebocoran data
Audit dan monitoring kepatuhan
📅 Durasi: 2 Hari
📍 Lokasi: Hotel / In-House / Online via Zoom
👨🏫 Narasumber Profesional
Pelatihan dibimbing oleh para akademisi dan konsultan senior bersertifikat nasional dan internasional di bidang hukum data, keamanan informasi, dan manajemen risiko dengan pengalaman lebih dari 35 tahun.
💰 Biaya & Kategori Pelatihan
Online (Zoom Meeting) Rp 3.000.000,-
Tatap Muka (Non Akomodasi) Rp 4.000.000,-
Dengan Akomodasi Twin Sharing (4H3M) Rp 4.800.000,-
Dengan Akomodasi Suite Room (4H3M) Rp 5.700.000,-
Fasilitas Peserta: Modul, seminar kit, sertifikat 16 JP, tas, konsumsi, dan coffee break.
📌 Kesimpulan
Kepatuhan terhadap UU PDP merupakan investasi strategis bagi keberlanjutan dan reputasi perusahaan. Dengan menerapkan kebijakan, SOP, serta audit kepatuhan yang terintegrasi, perusahaan dapat melindungi aset digital dan memperkuat kepercayaan publik.
💬 “Data pribadi adalah aset strategis — menjaganya berarti menjaga reputasi dan masa depan perusahaan.”
Rencana Strategis Organisasi Perangkat Daerah (Renstra OPD) merupakan dokumen perencanaan strategis jangka menengah perangkat daerah yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan tugas dan fungsi selama lima tahun.
Renstra OPD berperan penting dalam memastikan pelaksanaan program dan kegiatan pemerintah daerah berjalan selaras dengan visi, misi, dan arah kebijakan pembangunan nasional serta daerah. Melalui pendekatan berbasis kinerja, penyusunan Renstra diharapkan mampu menghasilkan perencanaan yang terukur, efisien, dan berorientasi hasil (outcome oriented planning).
Dasar Hukum
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan dan Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah.
Permendagri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian, dan Evaluasi Pembangunan Daerah.
PermenPAN-RB Nomor 88 Tahun 2021 tentang Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
PermenPAN-RB Nomor 7 Tahun 2021 tentang Roadmap Reformasi Birokrasi 2020–2024.
Tujuan Penyusunan Renstra OPD
Menjabarkan visi, misi, dan tujuan RPJMD ke dalam program strategis OPD.
Menyelaraskan arah kebijakan pembangunan daerah dengan tugas dan fungsi OPD.
Menjadi dasar penyusunan Rencana Kerja (Renja) tahunan dan RKA.
Menghasilkan dokumen perencanaan yang terukur, realistis, dan berbasis kinerja.
Mewujudkan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah sesuai prinsip SAKIP.
Prinsip Penyusunan Renstra Berbasis Kinerja
Keterpaduan antara RPJPD, RPJMD, Renstra OPD, Renja, dan APBD.
Berorientasi hasil (Outcome Oriented Planning) dengan indikator terukur.
Konsistensi antara perencanaan dan penganggaran berbasis program.
Akuntabilitas dan Transparansi dalam seluruh tahapan perencanaan.
Adaptif dan Responsif terhadap perubahan lingkungan strategis.
Tahapan Penyusunan Renstra OPD
1. Persiapan
Pembentukan Tim Penyusun Renstra OPD.
Pengumpulan data, evaluasi Renstra sebelumnya, dan analisis capaian kinerja.
2. Penyusunan Rancangan Awal
Menjabarkan visi, misi, dan tujuan kepala daerah sesuai RPJMD.
Identifikasi peran strategis OPD dalam pencapaian tujuan pembangunan daerah.
3. Analisis Isu Strategis
Melakukan analisis internal dan eksternal.
Menentukan isu strategis prioritas dan tantangan utama OPD.
4. Perumusan Tujuan dan Sasaran
Tujuan dan sasaran disusun dengan indikator kinerja utama (IKU) yang jelas, terukur, dan realistis.
5. Strategi dan Arah Kebijakan
Menentukan strategi program prioritas dan arah kebijakan tahunan berdasarkan skala prioritas pembangunan.
6. Penyusunan Program dan Indikator Kinerja
Menyusun daftar program, kegiatan, dan subkegiatan sesuai tugas dan fungsi OPD.
Menetapkan indikator output dan outcome serta target tahunan.
7. Konsultasi dan Sinkronisasi
Konsultasi ke Bappeda untuk penyelarasan dengan RPJMD dan RKPD.
Sinkronisasi lintas OPD untuk menghindari duplikasi kegiatan.
8. Finalisasi dan Penetapan
Finalisasi dokumen berdasarkan hasil pembahasan dan konsultasi publik.
Penetapan Renstra dengan Peraturan Kepala OPD setelah pengesahan oleh Kepala Daerah melalui Bappeda.
Struktur Dokumen Renstra OPD
Bab I: Pendahuluan
Bab II: Gambaran Umum Pelayanan OPD
Bab III: Isu Strategis dan Analisis Kinerja
Bab IV: Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran
Bab V: Strategi, Kebijakan, Program, dan Kegiatan
Bab VI: Indikator Kinerja dan Target
Bab VII: Penutup
Pendekatan Perencanaan Berbasis Kinerja
Renstra OPD disusun berdasarkan kerangka kinerja yang terukur melalui pendekatan SAKIP dengan alur logis:
Input → Output → Outcome → Impact
Setiap tahapan harus mencerminkan keterkaitan langsung antara sumber daya, hasil kegiatan, dan dampak yang ingin dicapai terhadap masyarakat dan pembangunan daerah.
Penutup
Panduan ini diharapkan menjadi acuan bagi seluruh perangkat daerah dalam menyusun Renstra OPD yang berkualitas, berorientasi hasil, dan selaras dengan arah pembangunan daerah.
Melalui penyusunan Renstra berbasis kinerja, pemerintah daerah dapat meningkatkan efektivitas perencanaan, efisiensi anggaran, serta akuntabilitas publik menuju tata kelola pemerintahan yang modern dan profesional.