Evaluasi kinerja dan Reformasi Birokrasi (RB) bukan lagi sekadar kewajiban administratif bagi SKPD, tetapi telah menjadi alat utama penilaian kualitas tata kelola pemerintahan daerah. Memasuki tahun 2026, pemerintah pusat semakin menekankan keterkaitan antara kinerja organisasi, hasil program, dan manfaat nyata bagi masyarakat.
Banyak SKPD menghadapi tantangan serius bukan karena tidak bekerja, melainkan karena hasil kerja tidak tergambarkan secara sistematis, terukur, dan selaras dengan sasaran strategis daerah. Akibatnya, capaian kinerja rendah, nilai evaluasi RB stagnan, dan SKPD kesulitan menjelaskan kontribusinya terhadap tujuan pembangunan daerah.
Tantangan Nyata SKPD dalam Evaluasi Kinerja dan RB 2026
Beberapa permasalahan yang umum dihadapi SKPD antara lain:
Dokumen perencanaan dan kinerja disusun formalitas tanpa keterkaitan nyata
Indikator kinerja tidak mencerminkan hasil dan dampak program
Program berjalan, tetapi tidak mendukung sasaran strategis daerah
Pelaporan kinerja fokus pada aktivitas, bukan capaian
Kinerja individu ASN tidak terhubung dengan kinerja organisasi
Persiapan evaluasi SAKIP dan RB dilakukan mendadak
Kondisi ini menyebabkan SKPD lemah dalam pembuktian kinerja, meskipun secara administratif terlihat lengkap.
Mengapa Evaluasi Kinerja dan RB Tahun 2026 Semakin Krusial?
Tahun 2026 menjadi periode strategis karena:
Evaluasi SAKIP dan RB semakin berbasis hasil dan dampak
Integrasi perencanaan, penganggaran, dan kinerja semakin diperkuat
Kinerja SKPD berpengaruh langsung pada kinerja kepala daerah
Reformasi birokrasi menjadi tolok ukur profesionalisme ASN
Tanpa strategi yang tepat, SKPD berisiko tertinggal dalam pencapaian kinerja dan nilai RB, meskipun program dan anggaran berjalan.
Strategi Kunci SKPD Menghadapi Evaluasi Kinerja & RB 2026
SKPD perlu melakukan perubahan pendekatan melalui:
Penyelarasan sasaran strategis daerah dengan program dan kegiatan OPD
Penyusunan indikator kinerja yang relevan, terukur, dan berdampak
Penguatan hubungan antara kinerja organisasi dan kinerja individu ASN
Pengelolaan data kinerja yang konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan
Persiapan evaluasi kinerja yang sistematis, bukan insidental
Strategi tersebut membutuhkan pemahaman konseptual sekaligus keterampilan teknis agar dapat diterapkan secara efektif di lingkungan SKPD.
Penawaran Bimbingan Teknis Nasional
Judul Kegiatan
Bimbingan Teknis Nasional
“Strategi SKPD Menghadapi Evaluasi Kinerja dan Reformasi Birokrasi Tahun 2026”
Tujuan Kegiatan
Bimbingan Teknis ini bertujuan untuk:
Meningkatkan pemahaman SKPD terhadap kebijakan evaluasi kinerja dan RB
Memperkuat kemampuan SKPD dalam menyusun dan mengelola kinerja
Meningkatkan kualitas indikator dan pelaporan kinerja SKPD
Mendorong peningkatan nilai evaluasi SAKIP dan Reformasi Birokrasi
Materi Bimbingan Teknis
Arah Kebijakan Evaluasi Kinerja dan Reformasi Birokrasi Tahun 2026
Penyelarasan Sasaran Strategis Daerah dengan Kinerja SKPD
Penyusunan Indikator Kinerja Berbasis Hasil dan Dampak
Integrasi Kinerja Organisasi dan Kinerja Individu ASN
Kesalahan Umum SKPD dalam Evaluasi Kinerja dan RB
Strategi Menyusun Laporan Kinerja yang Substantif
Persiapan Menghadapi Evaluasi SAKIP dan Reformasi Birokrasi
Studi Kasus Evaluasi Kinerja SKPD
Sasaran Peserta
Kepala SKPD dan Sekretaris
Pejabat struktural dan fungsional
Tim perencana dan pengelola kinerja
ASN yang terlibat dalam penyusunan dan pelaporan kinerja
Metode Pelaksanaan
Pemaparan kebijakan dan regulasi
Diskusi permasalahan nyata SKPD
Studi kasus evaluasi kinerja
Praktik penyusunan indikator dan strategi kinerja
ADWAL PELAKSANAAN
Periode: Januari – Desember 2026
Durasi: 2 hari per sesi
Format: Tatap muka & Online (Zoom)
📍 Lokasi:
Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makassar, Lombok
Pilihan Paket & Kontribusi Peserta
|
Paket |
Keterangan |
Biaya |
|---|---|---|
|
Paket A |
Penginapan Single |
Rp 5.500.000 |
|
Paket B |
Penginapan Twin Share |
Rp 5.000.000 |
|
Paket C |
Non Akomodasi |
Rp 4.000.000 |
|
Paket D |
Online via Zoom |
Rp 3.000.000 |
PEMBAYARAN
Pembayaran dapat dilakukan:
On the spot saat registrasi
Atau transfer ke:
Bank BRI
No. Rekening: 0424-01-000925-30-7
A.n.: LINKPEMDA
FASILITAS PESERTA
✔ Akomodasi (Paket A & B)
✔ Sertifikat Bimbingan Teknis
✔ Modul & Makalah
✔ Seminar Kit
✔ Konsumsi & Coffee Break
✔ Rekaman & E-Modul (Peserta Online)
KONTAK RESMI
📱 WhatsApp: +62 813-8766-6605
🌐 Website: www.linkpemda.com
📧 Email: info@linkpemda.com
Strategi Aman Bendahara OPD Menghadapi Audit APIP dan BPK 2026
Banyak bendahara pemerintah daerah terjerat masalah administrasi bahkan hukum bukan karena niat menyimpang, melainkan akibat lemahnya sistem pengendalian internal dalam pengelolaan keuangan OPD. Memasuki tahun 2026, pola pemeriksaan APIP dan BPK semakin bergeser dari sekadar kelengkapan dokumen menuju uji kepatuhan sistem, alur kewenangan, dan pengendalian risiko.
Dalam praktiknya, bendahara sering menjadi pihak yang paling disorot ketika terjadi kesalahan transaksi, ketidaksesuaian pengadaan, atau perbedaan data SIPD dengan dokumen fisik. Padahal, banyak kesalahan tersebut bersumber dari ketidaktegasan sistem kerja, lemahnya pembagian peran, dan minimnya pengendalian internal di tingkat OPD.
Oleh karena itu, penguatan pengendalian internal bendahara menjadi kebutuhan mendesak agar bendahara tidak lagi bekerja secara reaktif, tetapi aman secara sistemik.
Mengapa Pengendalian Internal Bendahara Sangat Krusial di Tahun 2026?
Beberapa kondisi nyata yang sering terjadi di OPD antara lain:
Bendahara bekerja sendirian tanpa sistem kontrol berlapis
Transaksi dilakukan berdasarkan kebiasaan, bukan SOP tertulis
Bukti transaksi lengkap, tetapi alur kewenangan lemah
Bendahara menerima perintah lisan yang berisiko hukum
Tidak ada mitigasi risiko atas kesalahan pengadaan dan pembayaran
Bendahara menjadi pihak pertama yang dimintai pertanggungjawaban
Tanpa pengendalian internal yang kuat, bendahara selalu berada di posisi paling rawan, meskipun tidak menikmati manfaat dari kebijakan yang diambil.
Pendekatan Baru: Bendahara Aman Karena Sistem, Bukan Sekadar Dokumen
Pengelolaan keuangan daerah tahun 2026 menuntut bendahara untuk:
Memahami batas kewenangan dan tanggung jawab pribadi
Membangun alur kerja yang terdokumentasi dan terkontrol
Mengelola risiko transaksi sebelum terjadi masalah
Memastikan setiap pembayaran memiliki dasar kewenangan yang jelas
Siap menghadapi audit berbasis risiko dan pengendalian internal
Pendekatan ini tidak cukup dipahami secara teori, tetapi harus dilatih melalui bimbingan teknis yang aplikatif dan berbasis kasus nyata OPD.
PENAWARAN BIMBINGAN TEKNIS NASIONAL
Judul Kegiatan
Bimbingan Teknis Nasional
“Penguatan Pengendalian Internal Bendahara OPD untuk Pencegahan Risiko Keuangan Daerah Tahun 2026”
Tujuan Kegiatan
Bimtek ini bertujuan untuk:
Meningkatkan pemahaman bendahara tentang pengendalian internal keuangan OPD
Membekali bendahara dengan strategi kerja yang aman secara sistem
Mengurangi risiko temuan bendahara dalam pemeriksaan APIP dan BPK
Memperjelas batas tanggung jawab bendahara, PPK, dan PPTK
Membangun pola kerja bendahara yang profesional dan terlindungi
Materi Bimbingan Teknis
Konsep Pengendalian Internal Bendahara Pemerintah Daerah
Pemetaan Risiko Bendahara dalam Siklus Keuangan OPD
Sistem Kerja Bendahara yang Aman dan Terkontrol
Kesalahan Sistemik yang Sering Menjadi Temuan Pemeriksaan
Hubungan Pengendalian Internal antara Bendahara, PPK, dan PPTK
Pengendalian Pembayaran dalam Kegiatan dan Pengadaan
Dokumentasi Transaksi Berbasis Alur dan Kewenangan
Strategi Bendahara Menghadapi Audit Berbasis Risiko
Studi Kasus Nyata Permasalahan Bendahara OPD
Sasaran Peserta
Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan
Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK)
PPTK dan staf pengelola keuangan OPD
Pejabat pengelola kegiatan dan keuangan daerah
Metode Pelaksanaan
Pemaparan regulasi dan praktik terbaik
Studi kasus nyata pengelolaan keuangan OPD
Diskusi interaktif permasalahan bendahara
Simulasi pengendalian internal bendahara
JADWAL PELAKSANAAN
Periode: Januari – Desember 2026
Durasi: 2 hari per sesi
Format: Tatap muka & Online (Zoom)
📍 Lokasi:
Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makassar, Lombok
Pilihan Paket & Kontribusi Peserta
|
Paket |
Keterangan |
Biaya |
|---|---|---|
|
Paket A |
Penginapan Single |
Rp 5.500.000 |
|
Paket B |
Penginapan Twin Share |
Rp 5.000.000 |
|
Paket C |
Non Akomodasi |
Rp 4.000.000 |
|
Paket D |
Online via Zoom |
Rp 3.000.000 |
PEMBAYARAN
Pembayaran dapat dilakukan:
On the spot saat registrasi
Atau transfer ke:
Bank BRI
No. Rekening: 0424-01-000925-30-7
A.n.: LINKPEMDA
FASILITAS PESERTA
✔ Akomodasi (Paket A & B)
✔ Sertifikat Bimbingan Teknis
✔ Modul & Makalah
✔ Seminar Kit
✔ Konsumsi & Coffee Break
✔ Rekaman & E-Modul (Peserta Online)
KONTAK RESMI
📱 WhatsApp: +62 813-8766-6605
🌐 Website: www.linkpemda.com
📧 Email: info@linkpemda.com
Bendahara Pemerintah Daerah memiliki peran penting dalam siklus Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (PBJ), khususnya pada tahap pembayaran dan pertanggungjawaban keuangan. Meskipun bendahara tidak terlibat langsung dalam proses pemilihan penyedia, namun dalam praktik pemeriksaan, bendahara sering menjadi pihak yang ikut dimintai pertanggungjawaban atas permasalahan PBJ.
Memasuki Tahun Anggaran 2026, pengawasan terhadap PBJ semakin diperketat melalui pemeriksaan BPK dan pengawasan APIP yang fokus pada kesesuaian pembayaran, kelengkapan dokumen, serta kepatuhan terhadap ketentuan kontrak dan perpajakan. Kondisi ini menuntut bendahara untuk memiliki pemahaman yang utuh mengenai batas kewenangan, tanggung jawab, dan risiko jabatan dalam PBJ.
Dalam banyak kasus, keterlibatan bendahara dalam temuan PBJ bukan disebabkan unsur kesengajaan, melainkan akibat lemahnya verifikasi dokumen, kesalahan perlakuan pajak, serta ketidaktepatan prosedur pembayaran. Oleh karena itu, bendahara perlu dibekali pemahaman dan strategi yang tepat agar dapat menjalankan perannya secara aman, profesional, dan patuh regulasi.
Tantangan Bendahara dalam Pengadaan Barang/Jasa Tahun 2026
Beberapa tantangan utama yang dihadapi bendahara pemerintah daerah dalam PBJ tahun 2026 antara lain:
Ketidakjelasan batas kewenangan bendahara dalam proses PBJ
Risiko pembayaran yang tidak sesuai kontrak atau progres pekerjaan
Kesalahan verifikasi dokumen pengadaan sebelum pembayaran
Risiko perpajakan pengadaan yang melekat pada bendahara
Tekanan percepatan pembayaran tanpa kelengkapan administrasi
Keterlibatan bendahara dalam temuan PBJ meskipun tidak terlibat proses pengadaan
Ketidaksiapan menghadapi pemeriksaan PBJ oleh BPK dan APIP
Tanpa pemahaman dan strategi yang tepat, bendahara berpotensi menjadi pihak yang paling terdampak apabila terjadi temuan pemeriksaan PBJ.
Strategi Aman Bendahara dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Strategi aman bendahara dalam PBJ tidak hanya berfokus pada kelengkapan administrasi, tetapi juga mencakup:
Pemahaman posisi dan batas tanggung jawab bendahara dalam PBJ
Ketelitian dalam verifikasi dokumen pengadaan sebelum pembayaran
Kepatuhan terhadap ketentuan kontrak dan progres pekerjaan
Penguasaan kewajiban perpajakan dalam transaksi PBJ
Koordinasi yang jelas antara bendahara, PPK, dan PPTK
Kesiapan menghadapi pemeriksaan dan klarifikasi PBJ
Strategi tersebut perlu dipahami dan dilatih secara sistematis melalui bimbingan teknis yang aplikatif dan berbasis praktik pemeriksaan.
Penawaran Bimbingan Teknis Nasional
Judul Kegiatan
Bimbingan Teknis Nasional
“Peran Bendahara dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Tahun 2026”
Tujuan Kegiatan
Bimbingan Teknis ini bertujuan untuk:
Meningkatkan pemahaman bendahara terhadap peran dan risiko dalam PBJ
Membekali bendahara dengan strategi aman dalam proses pembayaran pengadaan
Meminimalkan kesalahan bendahara yang berpotensi menjadi temuan PBJ
Meningkatkan kesiapan bendahara menghadapi pemeriksaan BPK dan APIP
Materi Bimbingan Teknis
Kedudukan dan Peran Bendahara dalam Siklus PBJ
Batas Kewenangan dan Tanggung Jawab Bendahara dalam Pengadaan
Verifikasi Dokumen Pengadaan Sebelum Pembayaran
Kesalahan Bendahara dalam PBJ yang Sering Menjadi Temuan
Perlakuan Pajak Pengadaan dan Risiko bagi Bendahara
Hubungan Kerja Bendahara dengan PPK dan PPTK dalam PBJ
Strategi Aman Bendahara Menghadapi Pemeriksaan PBJ
Studi Kasus Temuan PBJ dan Langkah Pencegahannya
Etika dan Integritas Bendahara dalam Pengelolaan PBJ
Sasaran Peserta
Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan
Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK)
PPTK dan staf pengelola keuangan OPD
Pejabat/staf yang terlibat dalam pembayaran PBJ
Metode Pelaksanaan
Pemaparan materi regulatif dan praktik terbaik
Studi kasus nyata temuan PBJ
Diskusi interaktif dan tanya jawab
Simulasi verifikasi dan pembayaran PBJ
JADWAL PELAKSANAAN
Periode: Januari – Desember 2026
Durasi: 2 hari per sesi
Format: Tatap muka & Online (Zoom)
📍 Lokasi:
Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makassar, Lombok
Pilihan Paket & Kontribusi Peserta
|
Paket |
Keterangan |
Biaya |
|---|---|---|
|
Paket A |
Penginapan Single |
Rp 5.500.000 |
|
Paket B |
Penginapan Twin Share |
Rp 5.000.000 |
|
Paket C |
Non Akomodasi |
Rp 4.000.000 |
|
Paket D |
Online via Zoom |
Rp 3.000.000 |
PEMBAYARAN
Pembayaran dapat dilakukan:
On the spot saat registrasi
Atau transfer ke:
Bank BRI
No. Rekening: 0424-01-000925-30-7
A.n.: LINKPEMDA
FASILITAS PESERTA
✔ Akomodasi (Paket A & B)
✔ Sertifikat Bimbingan Teknis
✔ Modul & Makalah
✔ Seminar Kit
✔ Konsumsi & Coffee Break
✔ Rekaman & E-Modul (Peserta Online)
KONTAK RESMI
📱 WhatsApp: +62 813-8766-6605
🌐 Website: www.linkpemda.com
📧 Email: info@linkpemda.com
Implementasi PP TUNAS di Pemerintah Daerah
Latar Belakang
Perkembangan teknologi digital yang semakin masif telah mendorong pemerintah daerah untuk memperluas layanan publik berbasis sistem elektronik. Di sisi lain, peningkatan akses digital juga membawa risiko baru, khususnya terhadap perlindungan anak di ruang digital.
Sebagai respons atas kondisi tersebut, pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggara Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS) yang mulai diimplementasikan secara efektif pada tahun 2026. Regulasi ini mengatur kewajiban perlindungan anak dalam penyelenggaraan sistem elektronik serta peran pemerintah, termasuk pemerintah daerah.
Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab strategis dalam memastikan layanan digital yang diselenggarakan aman, ramah anak, serta sejalan dengan kebijakan nasional perlindungan anak.
Ruang Lingkup Kebijakan PP TUNAS
PP TUNAS mengatur antara lain:
Perlindungan anak dalam penggunaan sistem elektronik
Kewajiban penyelenggara sistem elektronik
Pengendalian konten dan akses digital ramah anak
Peran pemerintah daerah dalam edukasi, pengawasan, dan kebijakan pendukung
Implementasi kebijakan ini membutuhkan kesiapan aparatur pemerintah daerah, baik dari sisi pemahaman regulasi maupun tata kelola teknis.
Tantangan Pemerintah Daerah Tahun 2026
Beberapa tantangan yang dihadapi pemerintah daerah antara lain:
Penyesuaian layanan publik digital agar ramah anak
Penguatan koordinasi lintas OPD
Integrasi kebijakan perlindungan anak dengan sistem pemerintahan berbasis elektronik
Peningkatan literasi digital masyarakat
Implementasi PP TUNAS Tahun 2026 menuntut peran aktif pemerintah daerah dalam menciptakan ekosistem digital yang aman dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas aparatur menjadi langkah penting untuk mendukung kebijakan perlindungan anak di ruang digital.
PENAWARAN BIMTEK
Bimbingan Teknis Perlindungan Anak & Tata Kelola Digital Tahun 2026
(Implementasi PP TUNAS di Pemerintah Daerah)
Dalam rangka mendukung kesiapan pemerintah daerah dalam mengimplementasikan PP TUNAS sebagai kebijakan perlindungan anak di ruang digital tahun 2026, bersama ini LINKPEMDA menawarkan pelaksanaan:
Bimbingan Teknis Perlindungan Anak & Tata Kelola Digital Tahun 2026
(Implementasi PP TUNAS di Pemerintah Daerah)
Tujuan Kegiatan
Kegiatan bimtek ini bertujuan untuk:
Meningkatkan pemahaman ASN terhadap substansi PP TUNAS
Memberikan pemahaman teknis terkait peran dan kewenangan pemerintah daerah
Mendukung penyelenggaraan layanan publik digital yang aman dan ramah anak
Memperkuat tata kelola sistem elektronik di lingkungan pemerintah daerah
Materi Bimtek
Materi yang disampaikan meliputi:
Kebijakan nasional perlindungan anak di ruang digital
Substansi dan implementasi PP TUNAS
Peran pemerintah daerah dalam pengawasan dan edukasi digital
Tata kelola layanan publik berbasis sistem elektronik
Sinkronisasi kebijakan perlindungan anak dengan regulasi terkait
Sasaran Peserta
ASN Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota
OPD terkait perlindungan anak dan layanan digital
Dinas Kominfo, Dinas Pendidikan, dan OPD teknis lainnya
Pengelola sistem informasi pemerintah daerah
JADWAL PELAKSANAAN
Periode: Januari – Desember 2026
Durasi: 2 hari per sesi
Format: Tatap muka & Online (Zoom)
📍 Lokasi:
Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makassar, Lombok
Pilihan Paket & Kontribusi Peserta
|
Paket |
Keterangan |
Biaya |
|---|---|---|
|
Paket A |
Penginapan Single |
Rp 5.500.000 |
|
Paket B |
Penginapan Twin Share |
Rp 5.000.000 |
|
Paket C |
Non Akomodasi |
Rp 4.000.000 |
|
Paket D |
Online via Zoom |
Rp 3.000.000 |
PEMBAYARAN
Pembayaran dapat dilakukan:
On the spot saat registrasi
Atau transfer ke:
Bank BRI
No. Rekening: 0424-01-000925-30-7
A.n.: LINKPEMDA
FASILITAS PESERTA
✔ Akomodasi (Paket A & B)
✔ Sertifikat Bimbingan Teknis
✔ Modul & Makalah
✔ Seminar Kit
✔ Konsumsi & Coffee Break
✔ Rekaman & E-Modul (Peserta Online)
KONTAK RESMI
📱 WhatsApp: +62 813-8766-6605
🌐 Website: www.linkpemda.com
📧 Email: info@linkpemda.com
Tahun 2026 merupakan fase krusial dalam transformasi pengadaan barang/jasa pemerintah daerah. Penerapan e-Katalog versi 6 (V6) yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) dan Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI) telah menjadi kebutuhan wajib bagi seluruh aparatur pemerintah daerah yang terlibat dalam perencanaan, penganggaran, pengadaan, dan pelaporan keuangan.
Integrasi sistem ini tidak hanya bertujuan mempercepat proses pengadaan, tetapi juga memastikan kesesuaian antara perencanaan, anggaran, kontrak, pembayaran, dan pelaporan, sekaligus meminimalkan risiko kesalahan administrasi serta temuan pemeriksaan.
Sejalan dengan kebijakan nasional penguatan tata kelola dan digitalisasi pemerintahan, LINKPEMDA menyelenggarakan Bimbingan Teknis Nasional (BIMTEK WAJIB ASN 2026) sebagai upaya peningkatan kapasitas aparatur pemerintah daerah agar mampu mengimplementasikan integrasi e-Katalog, SIPD, dan SAKTI secara tepat, patuh regulasi, dan aplikatif.
Tujuan Kegiatan
Bimbingan teknis ini bertujuan untuk:
Meningkatkan pemahaman ASN terhadap integrasi e-Katalog V6 dengan SIPD dan SAKTI
Memperkuat kompetensi teknis pelaksanaan e-Purchasing yang selaras dengan penganggaran daerah
Mencegah kesalahan administrasi dan potensi temuan audit pengadaan
Mendorong pengadaan barang/jasa yang transparan, efisien, dan akuntabel
Mendukung terwujudnya tata kelola pemerintahan daerah berbasis sistem terintegrasi
Materi Bimbingan Teknis
Materi disusun berbasis regulasi terbaru dan praktik lapangan, meliputi:
Kebijakan Nasional Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Tahun 2026
Penerapan e-Katalog Versi 6 (V6) dalam e-Purchasing Pemerintah
Integrasi e-Katalog dengan SIPD Perencanaan dan Penganggaran
Integrasi e-Katalog dengan Sistem Keuangan (SAKTI)
Alur Transaksi Pengadaan dari Perencanaan hingga Pembayaran
Penatausahaan dan Pelaporan Pengadaan Terintegrasi
Pengendalian, Monitoring, dan Audit Pengadaan Pemerintah
Studi Kasus & Best Practice Implementasi di Pemerintah Daerah
Diskusi Teknis dan Solusi Permasalahan Lapangan
Sasaran Peserta
Bimtek ini wajib dan sangat direkomendasikan bagi:
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)
Pejabat Pengadaan dan Pokja Pemilihan
Pengelola UKPBJ / ULP
Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK-SKPD)
Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Pembantu
Perencana OPD dan Pengelola SIPD
Auditor/APIP dan Pengawas Internal
ASN yang terlibat dalam pengadaan dan keuangan daerah
(Sasaran peserta bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan kebutuhan instansi.)
Dasar Hukum
Pelaksanaan kegiatan ini berpedoman pada:
UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
Perpres Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Perpres Nomor 46 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Perpres PBJ
Peraturan LKPP tentang Katalog Elektronik dan e-Purchasing
Permendagri Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
Kebijakan nasional integrasi SIPD dan sistem keuangan pemerintah
Susunan Acara (2 Hari / 16 JP)
Hari Pertama
08.00 – 09.00 Registrasi & Pembukaan
09.00 – 10.30 Kebijakan PBJ & Transformasi Digital Pengadaan
10.30 – 11.00 Coffee Break
11.00 – 12.30 e-Katalog V6 & Mekanisme e-Purchasing
12.30 – 13.30 ISHOMA
13.30 – 15.00 Integrasi e-Katalog dengan SIPD & SAKTI
15.00 – 15.30 Coffee Break
15.30 – 17.00 Studi Kasus & Diskusi Teknis
Hari Kedua
08.30 – 09.00 Review Materi
09.00 – 10.30 Sinkronisasi Anggaran, Kontrak, dan Pembayaran
10.30 – 11.00 Coffee Break
11.00 – 12.30 Penatausahaan & Pelaporan Pengadaan Terintegrasi
12.30 – 13.30 ISHOMA
13.30 – 15.00 Best Practice & Pencegahan Temuan Audit
15.00 – 15.30 Coffee Break
15.30 – 16.30 Konsultasi Teknis & Penutup
16.30 Penyerahan Sertifikat
JADWAL PELAKSANAAN
Periode: Januari – Desember 2026
Durasi: 2 hari per sesi
Format: Tatap muka & Online (Zoom)
📍 Lokasi:
Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makassar, Lombok
Pilihan Paket & Kontribusi Peserta
|
Paket |
Keterangan |
Biaya |
|---|---|---|
|
Paket A |
Penginapan Single |
Rp 5.500.000 |
|
Paket B |
Penginapan Twin Share |
Rp 5.000.000 |
|
Paket C |
Non Akomodasi |
Rp 4.000.000 |
|
Paket D |
Online via Zoom |
Rp 3.000.000 |
PEMBAYARAN
Pembayaran dapat dilakukan:
On the spot saat registrasi
Atau transfer ke:
Bank BRI
No. Rekening: 0424-01-000925-30-7
A.n.: LINKPEMDA
FASILITAS PESERTA
✔ Akomodasi (Paket A & B)
✔ Sertifikat Bimbingan Teknis
✔ Modul & Makalah
✔ Seminar Kit
✔ Konsumsi & Coffee Break
✔ Rekaman & E-Modul (Peserta Online)
KONTAK RESMI
📱 WhatsApp: +62 813-8766-6605
🌐 Website: www.linkpemda.com
📧 Email: info@linkpemda.com